Minggu, 21 Maret 2010
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Udara di dalam suatu ruangan dapat merupakan sumber kontaminasi mikroba. Udara tidak mengandung mikroflora secara alami, tetapi kontaminasi dari lingkungan di sekitarnya mengakibatkan udara mengandung berbagai mikroorganisme, misalnya debu, air, proses aerasi, dari penderita yang mengalami infeksi saluran pencernaan, dari ruang yang digunakan dalam fermentasi, dan sebagainya. Mikroorganisme yang terdapat di udara biasanya melekat pada bahan padat, misalnya debu atau terdapat dalam droplet air (Dwyana, 2009).
Udara sekitar ruang pengolahan sering terkontaminasi mikroba yang berasal dari debu, udara yang dikeluarkan oleh penderita penyakit saluran napas dll. Peralatan pengolahan yang tidak dicuci bersih seperti pisau (slicer), talenan, dan peralatan lain yang berhubungan langsung dengan bahan pangan; juga peralatan saji seperti piring, gelas, sendok, botol dan lain-lain. dapat menjadi sumber kontaminan (Rachmawan, 2001).
Kontaminasi oleh mikroorganisme dapat terjadi setiap saat dan menyentuh setiap permukaan seperti tangan atau alat/wadah. Oleh karena itu sanitasi lingkungan sangat perlu untuk diperhatikan terutama yang bekerja dalam bidang mikrobiologi atau pengolahan produk makanan atau industri (Dwyana, 2009).
Sanitasi memegang peranan penting dalam industri pangan karena merupakan usaha atau tindakan yang diterapkan untuk mencegah terjadinya perpindahan penyakit pada makanan. Dengan menerapkan sanitasi yang tepat dan baik, maka keamanan dari pangan yang diproduksi akan dijamin aman untuk dikonsumsi (Rachmawan, 2001).
Pengetahuan dasar dan keterampilan pengujian adanya kontaminan, pengujian pengaruh penggunaan sanitasi terhadap kontaminan serta cara-cara sanitasi yang baik sangat diperlukan dalam industri pangan baik skala kecil, menengah ataupun industri besar (Rachmawan, 2001).
I.2 TUJUAN PERCOBAAN
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu:
§ Untuk mengetahui dan menghitung jumlah koloni mikroorganisme di udara dengan menggunakan media Nutrien Agar (NA) dan Potato Dekstrose Agar (PDA),
§ Untuk mengetahui jumlah koloni dengan menguji kebersihan tangan sebelum dicuci dan setelah dicuci dengan antiseptik menggunakan media Eosin Methyle Blue Agar (EMBA) dan Vogel Johson Agar (VJA).
§ Untuk mengetahui jumlah koloni dari pengujian kebersihan alat dengan menggunakan media Nutrien Agar (NA).
I.3 WAKTU DAN TEMPAT
Praktikum ini dilaksanakan hari Sabtu 07 Maret 2009 pada pukul 13.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari mikroba. Mikrobiologi adalah salah satu cabang ilmu dari biologi, dan memerlukan ilmu pendukung kimia, fisika, dan biokimia. Mikrobiologi sering disebut ilmu praktek dari biokimia. Dalam mikrobiologi dasar diberikan pengertian dasar tentang sejarah penemuan mikroba, macam-macam mikroba di alam, struktur sel mikroba dan fungsinya, metabolisme mikroba secara umum, pertumbuhan mikroba dan faktor lingkungan, mikrobiologi terapan di bidang lingkungan dan pertanian. Mikrobiologi lanjut telah berkembang menjadi bermacam-macam ilmu yaitu virologi, bakteriologi, mikologi, mikrobiologi pangan, mikrobiologi tanah, mikrobiologi industri, dan sebagainya yang mempelajari mikroba spesifik secara lebih rinci atau menurut kemanfaatannya (Sumarsih, 2003).
Whittaker membagi jasad hidup menjadi tiga tingkat perkembangan, yaitu: (1) Jasad prokariotik yaitu bakteri dan ganggang biru (Divisio Monera), (2) Jasad eukariotik uniseluler yaitu algae sel tunggal, khamir dan protozoa (Divisio Protista), dan (3) Jasad eukariotik multiseluler dan multinukleat yaitu Divisio Fungi, Divisio Plantae, dan Divisio Animalia. Sedangkan Woese menggolongkan jasad hidup terutama berdasarkan susunan kimia makromolekul yang terdapat di dalam sel. Pembagiannya yaitu terdiri Arkhaebacteria, Eukaryota (Protozoa, Fungi, Tumbuhan dan Binatang), dan Eubacteria (Sumarsih, 2003).
Mikroba di alam secara umum berperanan sebagai produsen, konsumen, maupun redusen. Jasad produsen menghasilkan bahan organik dari bahan anorganik dengan energi sinar matahari. Mikroba yang berperanan sebagai produsen adalah algae dan bakteri fotosintetik. Jasad konsumen menggunakan bahan organik yang dihasilkan oleh produsen. Contoh mikroba konsumen adalah protozoa. Jasad redusen menguraikan bahan organik dan sisa-sisa jasad hidup yang mati menjadi unsur-unsur kimia (mineralisasi bahan organik), sehingga di alam terjadi siklus unsur-unsur kimia. Contoh mikroba redusen adalah bakteri dan jamur (fungi) (Sumarsih, 2003).
Flora mikroba di udara bersifat sementara dan beragam. Udara bukanlah suatu medium tempat mikroorganisme tumbuh, tetapi merupakan pembawa bahan partikulat, debu, dan tetesan cairan yang kesemuanya ini mungkin dimuati mikroba. Jumlah dan tipe mikroorganisme yang mencemari udara ditentukan oleh sumber pencemaran di dalam lingkungan, misalnya dari saluran pernapasan manusia disemprotkan melalui batuk dan bersin, dan partikel-partikel debu dari permukaan bumi diedarkan oleh aliran udara (Pelczar, 2006).
Mikroorganisme asal udara dapat terbawa partikel debu, dalam tetes-tetes cairan berukuran besar dan tersuspensikan hanya sebentar, dan dalam inti tetesan yang terbentuk bila titik-titik cairan berukuran kecil menguap. Organisme yang memasuki udara dapat terangkut sejauh beberapa meter atau beberapa kilometer. Sebagian segera mati dalam beberapa detik, sedangkan yang lain dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau lebih lama lagi. Nasib akhir mikroorganisme asal udara diatur oleh seperangkat rumit keadaan di sekelilingnya, termasuk keadaan atmosfer, kelembapan, cahaya matahari dan suhu, ukuran partikel yang membawa mikroorganisme, ciri-ciri mikroorganismenya, terutama kerentanannya terhadap keadaan fisik di atmosfer (Pelczar, 2006).
Keselamatan tiap-tiap makhluk hidup sangat tergantung pada keadaan di sekitarnya, terutama mikroorganisme. Mikroorganisme tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya, sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya (Dwidjoseputro, 1987).
Faktor-faktor yang menguasai kehidupan bakteri antara lain sebagai berikut :
o Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan mikroba. Beberapa mikroba dapat tumbuh pada kisaran suhu yang luas. Berkait dengan pertumbuhan dikenal suhu minimum, maksimum, dan optimum. Suhu minimum adalah suhu yang paling rendah dimana kegiatan masih berlangsung. Suhu optimum adalah suhu yang paling baik untuk kehidupan jasad. Sedangkan suhu maksimum adalah suhu tertinggi yang masih dapat menumbuhkan mikroba tetapi pada tingkat kegiatan fisiologi yang paling rendah (Hidayat, 2006).
o Bahan Bentuk Gas
Jenis dan konsentrasi gas dalam lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme, selain dari jenis-jenis gas yang telah dibicarakan pada bab terlebih dahulu, seperti oksigen dan karbondioksida yang sangat penting untuk kehidupan bakteri. Nitrogen dan amonia adalah esensial untuk siklus nitrogen, dan H2S mengambil peranan utama dalam siklus sulfur. Tetapi selain gas yang diperlukan untuk pertumbuhan, ada pula gas-gas toksik yang digunakan sebagai bahan untuk mematikan mikroba, seperti formalin dan etilenoksida yang sering dipakai untuk bahan disinfeksi (Irianto, 2006).
o Tekanan Osmosis
Terjadinya plasmolisis dan plasmoptisis disebabkan karena sel berada dalam lingkungan dengan tekanan osmosis lebih tinggi atau lebih rendah dari isi sel. Karena itu, untuk mempertahankan kehidupan sel harus diciptakan tekanan osmosis yang seimbang antara lingkungan dan isi sel (Irianto, 2006).
o Kelembaban dan Pengeringan
Tiap jenis mikroba mempunyai kelembaban optimum tertentu. Pada umumnya khamir dan bakteri membutuhkan kelembapan yang lebih tinggi dibandingkan jamur. Tidak semua air dalam medium dapat digunakan mikroba. Air yang dapat digunakan disebut air bebas. Banyak mikroba yang tahan hidup dalam keadaan kering untuk waktu yang lama. Misalnya mikroba yang membentuk spora, spora, dan bentuk-bentuk kista. Pada proses pengeringan air akan menguap sehingga kegiatan metabolisme terhenti (Hidayat, 2006).
BAB III
METODOLOGI
III.1 ALAT
Adapun alat yang digunakan yaitu cawan petri, kertas label dan swap steril.
III. BAHAN
Adapun bahan yang dipakai yaitu media pertumbuhan mikroba Nutrien agar, Eosin methyle blue agar, Vogel johson agar, Nacl fisiologis, sabun antispektik, tissue dan alkohol 70 %.
III. CARA KERJA
Uji kontaminasi udara
1. Menyiapkan cawan petri yang berisi media Nutrien afgar (NA ) dan Potato Dextrose agar ( PDA )dalam suatu ruangan tertutup dalam kondisi cawan petri terbuka.
2. Biarkan dalam keadaan terbuka selama 30 menit.
3. Menutup cawan petri dan menginkubasinya pada suhu 30ºC selama 1-2 x 24 jam.inkubasi dilakukan dengan posisi cawan terbalik.
4. Mengamati dan menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada agar cawan. Kemudian menghitung densitas bakteri ( pada NA ) dan densitas khamir/ kapang ( pada PDA ). Densitas bakteri di udara : Jumlah koloni percawan x 60 menit/ 30 menit x 144 in ²/ luas cawan ( in²).
Uji kebersihan udara
1. Menyiapkan media EMBA dan VJA masing- masing sebanyak 2 cawan
2. Menyentuhkan tangan yang belum di cuci pada media EMBA dan VJA selama 5 detik.kemudian menyentuhkan tangan yang telah dicuci dengan sabun antispektik pada cawan yang lainnya.
3. Semua cawan diinkubasikan secara terbalik pada suhu 30ºc selama 1 – 2 hari. Mengamati pertumbuhan mikroba tersebut. Memperhatikan koloni hitam pada VJA dan koloni hijau metalik dan merah muda pada EMBA.
Uji kebersihan alat
1. Menyiapkan swap yang telah direndam dalam larutan buffer fosfat/ Nacl 0,85%.
2. Memeras swap dengan cara menekankan pada dinding tabung kemudian dipakai untuk menyeka permukaan alat – alat gelas seluas 10 cm.
3. Selanjutnya mengusapakan secara merata pada seluruh permukaan media cawan petri berisi medium nutrient agar ( NA ) dan menginkubasinya pada suhu 30ºC selama 24 jam
4. Menghitung jumlah koloni yanag tumbuh pada permukaan cawan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1 HASIL
Uji kontaminasi udara
Nutrien agar ( NA )
KETERANGAN
D:\MyDocuments\Bluetooth Exchange Folder\100320093437.jpg
Jumlah koloni 38
Potato Dextrose agar ( PDA )
KETERANGAN
D:\MyDocuments\Bluetooth Exchange Folder\100320093439.jpg
Jumlah koloni 2
Uji kebersihan tangan
Eosin methyl blue ( EMBA ) Tangan Sebelum dicuci sabun antispektik
Eosin methyl blue ( EMBA ) setelah dicuci sabun antispektik
Keterangan :
Koloni merah muda, Ada koloni bakteri yang tumbuh
Keterangan : Terdapat koloni bakteri, berwarana merah muda dan berbentuk bulat. Bakteri tersebut dari golongan colyform
Vogel Johson agar ( VJA )tangan sebelum dicuci sabun antispektik
Vogel Johson agar ( VJA ) setelah dicuci antispektik
Keterangan : Koloni putih kekuningan
Keterangan : Koloni berwarna kuning, bukan berasal dari golongan staphylococcus
Uji kebersihan alat
Nutrien agar ( NA )
G:\Mikpang\gambar kel.6\Uji kbrshn alat.jpg
IV. 2 PEMBAHASAN
Uji kontaminasi udara
Media yang digunakan untuk menguji adanya kontaminasi udara adalah media NA dan PDA. Masing-masing media tersebut dituangkan ke dalam cawan petri dan dibiarkan terbuka selama 30 menit. Setelah itu ditutup dan kemudian diinkubasikan selama 1 hari pada suhu 37°C.
Hasil yang diperoleh adalah bahwa untuk media NA tumbuh koloni bakteri yang berwarna putih kekuning-kuningan, berbentuk bulat-bulatan kecil dan kasar, dan jumlah koloni yang tumbuh adalah 38 koloni.
Sedangkan pada media Potato Dextrose (PDA) Hari pertama inkubasi, terdapat sedikit bakteri, lalu pada hari ketiga tumbuh jamur yang bercabang–cabang dan berserabut yang dikenal sebagai hifa dan terdapat 2 koloni yang tumbuh pada media ini.
Tumbuhnya bakteri pada NA dan kapang pada PDA menunjukkan bahwa medium agar (NA dan PDA) terkontaminasi dengan udara sekitarnya. Dan ini membuktikan bahwa mikroorganisme ada yang hidup di udara. Hal ini berarti bahwa udara di dalam ruangan dapat merupakan sumber kontaminasi mikroba.
Uji kebersihan tangan
Kontaminasi oleh mikroorganisme dapat terjadi setiap saat dan menyentuh setiap permukaan seperti tangan atau alat/wadah. Hasil yang diperoleh pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
Bahwa setelah diinkubasi, pertumbuhan koloni hitam pada VJA dan koloni hijau metalik dan merah muda pada EMBA. Media EMBA dengan menggunakan antiseptic menunjukkan hasil yang positif dengan terbentuknya pertumbuhan koloni. Hal ini, mengindiokasikan bahwa mungkin saja proses pencucian dengan menggunakan antiseptic tidak dilakukan dengan diteliti sehingga masih terdapat mikroba pada permukaan kulit tangan dan atau dikarenakan tangan praktikan menyentuh permukaan wadah atau meja yang terdapat mikroba setelah mencuci tangannya. Sedangkan EMBA yang telah disentuh tangan tanpa antiseptic memberikan hasil yang positif dengan terbentuknya koloni dari bakteri koliform yang berwarna merah muda
Media pertumbuhan Vogel Jhonson Agar yang telah disentuh tangan dengan menggunakan antiseptic menunjukkan terbentuknya pertumbuhan koloni. Sedangkan VJA tanpa antiseptic tidak terdapat koloni. Terdapatnya bakteri pada tangan setelah pemakaian antiseptic bisa disebabkan karena pada proses pencucian tangan tidak steril dan setelah mencuci tangan menyentuh permukaan meja yang mungkin terdapat sekumpulan mikroba dan faktor lainnya yaitu tidak sterilnya alat yang digunakan (cawan Petri) dan tidak sterilnya tempat pelaksanaan percobaan (enkas). VJA yang disentuhkan dengan tangan tanpa dibersihkan dengan antiseptic tidak ada koloni yang tumbuh, karena bisa dikarenakan oleh media VJA dalam keadaan steril.
Uji kebersihan alat
Media yang digunakan untuk menguji kebersihan alat adalah nutrient agar (NA). Adapun hasil yang telah didapat adalah bahwa tumbuh koloni mikroba pada permukaan cawan, berbentuk bulat-bulat kecil atau bisa juga dikatakan berbentuk titik-titik. Koloni tersebut berwarna putih kekuningan. Jumlah koloni yang tumbuh tidak dapat dihitung karena jumlahnya terlalu banyak untuk dihitung (TBUD).
BAB V
PENUTUP
V.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari percobaan ini berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan di atas adalah sebagi berikut:
§ Pada uji kontaminasi udara pada Media Nutrien Agar, jumlah koloni sebanyak 38 koloni, sedangkan pada media Potato Dekstrose Agar jumlah koloni sebanyak 2 koloni.
§ Pada media pertumbuhan bakteri Eosin Methylen Blue Agar terbentuk koloni bakteri coliform yangberwarna merah muda, lalu pada media pertumbuhan Vogel jhonson Agar terbentuk koloni hitam.
§ Jumlah koloni yang ternetuk pada media pertumbuhan Nutrien agar sangat banyak (terlalu banyak untuk dihitung).
V.2 SARAN
§ Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai nama mikroba yang tumbuh pada medium yang diujikan.
§ Sebaiknya kebersihan laboratorium ditingkatkan lagi.
§ Keramahan asisten tetap dipertahankan.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 1987. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Malang.
Dwyana, Zaraswaty dan Nur Haedar. 2009. Penuntun praktikum Mikrobiologi Pangan. Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Hidayat, N. 2006. Mikrobiologi Industri. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Irianto, K. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 1. CV. Yrama Widya, Bandung.
.Pelczar, M.J. dan Chan, E.C.S. 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1. Penerbit UI-Pres. Jakarta.
Rachmawan, Obin. 2001. Sumber Kontaminasi dan Teknik Sanitasi. http://202.152.31.170/modul/pertanian/pengendalian_mutu/sumber_kontaminasi_dan_teknik_sanitasi.pdf. Didownload pada tanggal 25 Maret 2009
Minggu, 07 Maret 2010
Laporan Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman (Nematoda)
DASAR DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN NEMATODA
Oleh
MUHAMAD RIDWAN
E 281 08 034
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2009
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit yang terjadi pada tumbuhan dapat disebabkan oleh mikroorganime dari berbagai jenis yang tidak bisa kita lihat dengan menggunakan mata telanjang. Dampak dari serangan penyakit berbeda-beda setiap jenis tumbuhan yang diseranggnya. Mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya penyakit pada tumbuhan seperti Jamur, Bakteri, Virus dan Nematoda.
Penyebab penyakit pada tanaman yang disebutkan di atas diantaranya adalah Nematoda. Nematoda dapat berperan sebagai hama dan juga sebagai penyakit, dikatakan sebagai hama karena nematoda dapat menyerang tanaman dari permukaan tanah dan digolongkan sebagai penyebab penyakit karena dapat masuk kedalam jaringan pembuluh pada akar tanaman.
Nematoda merupakan mikroorganisme yang digolongkan ke dalam filum dunia hewan. Nematoda ketika dilihat di bawah mikroskop terlihat berupa cacing-cacing mikroskopis dengan ukuran tubuh yang sangat kecil dan berwarnah bening. Secara umum karena ukuran tubuh nemtoda sangat kecil, para petani sangat sulit membedakan dengn penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri (Anonim, 2009).
Melihat fenomena bahwa banyaknya tanaman budidaya khususnya tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum) dan Seledri (Aphium graveolens) yang terserang Nematoda untuk itu sangat pentingnya praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman khususnya tentang Pengenalan Nematoda. Dengan praktikum ini kita dapat mengetahui morfologi nematoda, gejala serangan dan juga pangandalian nematoda, sehingga dalam pengaplikasian dilapangan kita sudah mengetahui semua tentang nematoda.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul tentang Pengenalan Nematoda adalah untuk mengetahui ciri morfologi, gejala serangan, tehnik ekstraksi serta cara pengendalian dari nematode parasitik.
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui dan membedakan ciri morfologi dari nematoda dan gejala serangan serta cara pengendalian yang tepat.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ordo Thylenchidae
Ordo Tylenchidae merupakan nematoda yang menjadi parasit bagi tanaman. Karakteristik ordo ini yaitu stilet berbentuk ramping, lancip, biasanya pada pangkal stilet terdapat knob yang terdiri dari tiga bagian sebagai tempat melekatnya otot-otot. Farink dibagi menjadi empat bagian yang berturut-turut dari depan adalah prokorpus, metakorpus (berupa lembaran berbentuk seperti bulan sabit, sebagai tempat melekatnya otot-otot radial), stimulus (ramping memanjang yang dilingkari oleh sebuah cincin syaraf), dan bagian bawah adalah basal bulbus atau lobus. Kutikula kelompok nematoda ini memiliki anulasi jelas. Kerangka kepala tidak ada atau kurang berkembang, stilet kecil baik jantan maupun betina aktif, berupa nematoda berbentuk memanjang. Ovarium tunggal, vulva terletak di antara pertengahan panjang tubuh dan anus. Ekor nematoda betina meruncing sedangkan nematoda jantan mempunyai sayap ekor tetapi tidak mencapai ujung ekor. Kelenjar esofagus berada di dalam basal bulbus sebagian kecil tumpang tindih dengan usus Anguina dan Ditylenchus (Subagia, 2009).
2.2 Sistematika Nematoda Meloidogyne spp.
Sistematika Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.), adalah sebagai berikut Kingdom Animalia, Filum Aschelmintes, Klass Nematoda, Sub Klass Secermentea, Ordo Tylencida, Famili Heteroderidae, Sub Famili Heteroderidaenae, Genus Meloidogyne, Spesies Meloidogyne spp. (Anaf, 2009).
2.3 Siklus Hidup
Umumnya perkembangan nematoda parasit tanaman terdiri dari tiga fase yaitu fase larva I sampai larva IV dan nematoda dewasa. Siklus hidup nematoda puru akar sekitar 18–21 hari atau 3–4 minggu dan menjadi lama pada suhu yang dingin. Jumlah telur yang dihasilkan seekor betina tergantung pada kondisi lingkungannya. Pada kondisi biasa betina dapat menghasilkan 300-800 telur dan kadang-kadang dapat menghasilkan lebih dari 2800 telur. Larva tingkat II menetas dari telur yang kemudian bergerak menuju tanaman inang untuk mencari makanan, terutama bagian ujung akar di daerah meristem, larva kemudian menembus korteks akibatnya pada tanaman yang rentan terjadi infeksi dan menyebabkan pembesaran sel-sel. Di dalam akar larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang menjadi makanannya, larva menggelembung dan melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya, selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa yeng berbentuk memanjang di dalam kutikula, stadium ke empat muncul dari jaringan akar dan menghasilkan telur secara terus menerus selama hidupnya. Nutrisi yang tersedia serta jumlah larva per unit area jaringan inang. Larva jantan lebih banyak jika akar terserang berat dan zat makanan kurang, jika sedikit larva pada jaringan inang maka hampir semua menjadi betina, tetapi reproduksinya kebanyakan partenogenesis, walaupun exudat akar mampu memacu penetasan telur, tetapi senyawa tersebut tidak diperlukan untuk keberhasilan siklus hidupnya (Anaf, 2009).
2.4 Morfologi dan Sistem Reproduksi
2.4.1 Nematoda jantan
Nematoda jantan dewasa berbentuk memanjang bergerak lambat di dalam tanah, panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina (Anaf, 2009).
Pada cacing jantan terdiri dari satu atau kadang-kadang dua testis tubuler. Secara berturutan setelah testis, vas eferens, vesikulum seminalis (sebagai tempat menyimpan sperma), vas deferens dan terakhir kloaka. Disebelah dorsal kloaka ditemukan kantung spikulum yang biasanya ditemukan 1 atau 2 atau tidak spikula (alat untuk kopulasi). Disekeliling anus ditemukan beberapa papila yang kadang-kadang bertangkai serta susunan berbeda pada setiap jenis cacing. Ekor cacing jantan dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu yang berupa sayap yang terbentuk dari kutikula sepanjang ekor cacing dan tidak terlalu melebar disebut ala caudal sedangkan yang melebar membentuk bentukan yang disebut bursa (berfungsi untuk memegang cacing betina saat kopulasi (Subagia, 2009).
2.4.2 Nematoda betina
Nematoda betina dewasa berbentuk seperti buah pir bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), mempunyai leher pendek dan tanpa ekor. Panjang lebih dari 0,5 mikron dan lebarnya antara 0,3-0,4 mm, stiletnya lemah dan panjangnya 12–15 mm melengkung kearah dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas, (Anaf, 2009).
Sistem reproduksi cacing betina terdiri dari 2 atau 1 ovarium tubuler, berikutnya masing-masing oviduks, uterus (bagian uterus ada yang meluas membentuk Reseptakulum Seminalis yaitu kantung sperma), vagina dan terakhir vulva (Subagia, 2009).
2.5 Tehnik Ekstraksi Nematoda
Cara kerja untuk mengekstraksi nematoda yaitu Susun berturut-turut dari bawah nampan plastik, nampan saringan, kasa dan tissue. Ambil sampel kemudian ratakan pada tissue yang telah disiapkan tersebut di atas. Tuangkan air pada nampan secara perlahan, sampai tanah yang telah diratakan tersebut basah/air menyentuh tissue dan permukaan air tidak melebihi permukaan sampel. Inkubasikan selama 2x24 jam. Saringan diangkat dan ditiriskan. Air yang tertampung pada nampan disaring dengan menggunakan saringan 200 mesh. Cuci saringan dengan air bersih menggunakan botol semprot. Kemudian masukkan suspensi nematoda ke dalam botol dan disimpan dalam lemari pendingin untuk pengamatan. Tuang suspensi dalam papan hitung untuk pengamatan nematoda sekaligus menghitung populasi nematoda di bawah mikroskop stereo. Nematoda dipancing menggunakan kait nematoda dan diletakkan diatas gelas benda yang telah ditetesi air untuk diamati dibawah mikroskop compound. Catatan untuk pengerjaan sampel tanah ditimbang sebanyak 100 g, untuk pengerjaan sampel akar atau jaringan tanaman, dibersihkan dari tanah atau kotoran yang menempel. Dipotong-potong menggunakan gunting tanaman hingga berukuran 0,5 cm dan ditimbang. Kemudian sampel diblender selama 3 detik (Anonim, 2009).
2.6 Tehnik Pengendalian Nematoda
Pengendalian nematoda dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti cara bercocok tanam, sanitasi, kimia dan pengendalian hayati. Pengendalian dengan bercocok tanam melalui pengaturan waktu tanam yaitu menanam tanaman pada waktu yang tidak sesuai dengan perkembangan nematoda, membajak tanah agar nematoda yang berada pada lapisan dalam tanah akan naik kepermukaan tanah sehingga terjadi pengeringan oleh panas matahari, kelembaban tanah, perbaikan dan komposisi tanah dengan pemupukan. Pengendalian secara kimia dapat dilakaukan dengan penggunaan nematisida fumigan, metil bromyda, methon sodium dan karbofuran, penanifhas, dan prophus. Pengendalian secara hayati pelaksanaannya menggunakan mikroorganisme pada nematoda yang sekarang giat diteliti. Pengendalian hayati dilakukan dengan menggunakan parasit atau predator pada telur, larva atau nematoda dewasa agar dapat menekan populasi nematoda. Pengendalian hayati terhadap patogen tanaman umumnya terjadi mekanisme secara antagonis. Antagonis yaitu peristiwa dimana organisme yang satu menghambat perkembangan dan pertumbuhan organisme yang lain, hal ini dapat terjadi dengan beberapa cara seperti kompetisi, antibiosis, dan parasitisme. Dalam hal ini dapat terjadi persaingan dan perebutan ruang, makannan (nutrisi), oksigen dan pembentukan toksin (Anaf, 2009).
III. METODE PRAKTEK
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman tentang Pengenalan Nematoda dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu dan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 18 November 2009 pukul 14.00 WITA sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman tentang Pengenalan Nematoda yaitu talang, kain kasa, keranjang, cutter, mikroskop, handsprayer, cawan petri, saringan, ember serta alat tulis menulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tanaman seledri (Aphium graveolensi L.) dan tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum) yang terserang nematoda Meloidogyne spp. beserta tanah sekitarnya, tissue dan aquades.
3.3 Cara Kerja
Ekstraksi tanah yang terinfeksi nematoda langkah kerja yang harus dilakukan adalah yaitu pertama-pertama menyiapkan talang, keranjang dan kain kasa, kemudian meletakkan keranjang di atas talang, setelah itu melapisi keranjang tersebut dengan kain kasa dan tisue, setelah keranjang terlapisi dengan baik selanjutnya menaburi tanah yang terinfeksi nematoda kedalam keranjang secara merata. Setelah tanah sudah ditaburi langkah selanjutnya memasukan air aquades ke dalam talang sampai tanah sedikit tenggelam. Inkubasikan bahan yang telah siap selama 1x24 jam, setelah 1x24 jam meniris air rendaman tersebut kemudian menyaring air tersebut dengan saringan, setelah itu menyemprot-nyemprotkan saringan dengan hands sprayer di atas cawan petri, selanjutnya mengemati nematoda yang ada dalam cawan petri di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x, kemudian menggambar morfologi nematoda yang terlihat.
Ekstraksi akar yang terserang nematoda langkah kerjanya yaitu pertama-pertama menyiapkan talang, keranjang dan kain kasa, kemudian meletakkan keranjang di atas talang, setelah itu melapisi keranjang tersebut dengan kain kasa dan tisue, setelah keranjang terlapisi dengan baik selanjutnya mencuci akar yang terinfeksi nematoda dengan bersih, setelah bersih langkah selanjutnya adalah memasukan potongan akar kedalam keranjang secara merata. Setelah akar sudah ditaburi langkah selanjutnya memasukan air aquades ke dalam talang sampai akar sedikit tenggelam. Inkubasikan bahan yang telah siap selama 1x24 jam, setelah 1x24 jam meniris air rendaman tersebut kemudian menyaring air tersebut dengan saringan, setelah itu menyemprot-nyemprotkan saringan dengan hands sprayer di atas cawan petri, selanjutnya mengemati nematoda yang ada dalam cawan petri di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x, kemudian menggambar morfologi nematoda yang terlihat.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman tentang Pengenalan Nematoda didapatkan hasil sebagai berikut :
Keterangan :
1. Terlihat daun mengering dan mengkerut
2. warna batang terlihat berwarna kecoklat-coklatan.
3. Terlihat bintil-bintil pada akar.
Gambar 55. Morfologi Tomat (Lycopersicum esculentum) yang Terserang Nematoda Meloidogyne spp.
Keterangan :
1. Terlihat daun mengkerut dan terdapat bercak-bercak kecoklatan
2. Terlihat tangkai daun menjadi layu
3. Terlihat bintil-bintil pada akar.
Gambar 56. Morfologi Seledri (Aphium graveolensi) yang Terserang Nematoda Meloidogyne spp.
Keterangan :
1. Caput
2. Mulut
3. Stilet
4. Ekor
5. Abdomen
Gambar 57. Morfologi Nematoda Meloidogyne spp. Betina pada Pembesaran 10x.
Keterangan :
1. Caput
2. Mulut
3. Stilet
4. Abdomen
Gambar 58. Morfologi Nematoda Meloidogyne spp. Jantan pada Pembesaran 10x.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Nematoda Meloidogyne spp. pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) serta tanah sekitarnya.
Pengamatan pertama yaitu mengamati morfologi tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum) yang terserang Nematoda Meloidogyne spp. terlihat bahwa tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) daunnya menjadi layu dan mengering serta terlihat mengkerut, batang terlihat layu serta warna batang menjadi kecoklat-coklatan pada akar terlihat bintil-bintil yang menempel.
Serangan nematoda menimbulkan gejala yang beragam tergantung pada jenis nematoda, jenis tumbuhan yang terserang dan keaadaan lingkungan nematoda yang menyerang akar akan menimbulkan gejala terutama pada akar, tetapi gejala ini biasanya disertai dan munculnya gejala pada bagian atas tanaman, yaitu berupa gejala tanaman kerdil, daun menguning, dan layu yang berlebihan dalam cuaca panas (Anaf, 2009).
Tanah yang terinfeksi nematoda Meloidogyne spp. terlihat tanahnya berwarna hitam, jika dipegang terasa sedikit lembab. Tanah yang terinfeksi mudah hancur jika diremas menjadi pertikel tanah halus.
Tipe tanah mempengaruhi perkembangan nematoda misalnya sifat tekstur, aerasi, kelembaban, pH, kandungan bahan organik dan anorganik tanah. Nematoda membutuhkan kelembaban yang lembab dan aerasi yang baik. Aerasi berhubungan erat dengan kandungan air tanah, aerasi akan menurun dengan meningkatnya kandungan air tanah sehingga ketersediaan oksigen dalam tanah berkurang. Pertukaran udara dalam tanah mempengaruhi pernafasan nematoda. Perkembangan nematoda akan baik jika keadaan udara dalam tanah cukup. Pada kondisi oksigen rendah dapat menghambat perkembangan dan penetasan telur. Produksi dan pergantian kulit nematoda kebanyakan sangat sensitif terhadap oksigen yang rendah, sedangkan dampak terhadap penetasan telur kurang peka (Anaf, 2009).
4.2.2 Nematoda Meloidogyne spp. pada tanaman seledri (Aphium graveolens) serta tanaman sekitarnya.
Pengamatan berikutnya yaitu mengamati morfologi tanaman seledri (Aphium graveolens) yang terinfeksi nematoda terlihat daun seledri (Aphium graveolens) layu dan mengkerut serta terlihat bercak-bercak kecoklatan. Tangakai daun menjadi layu serta terdapat bintil-bintil pada akar.
Puru akar merupakan ciri khas dari serangan nematoda Meloidogyne spp. Puru akar tersebut terbentuk karena terjadinya pembelahan sel-sel raksasa pada jaringan tanaman sel-sel ini membesar dua atau tiga kali dari sel-sel normal. Selanjutnya akar yang terserang akan mati dan mengakibatkan pertumbuhan tanamn terhambat. Respon tanaman terhadap nematoda puru akar merupakan respon dari seluruh bagian tanaman dan respon dari sel-sel tanaman, seluruh bagian tanaman memberikan respon terhadap infeksi dan menurunnya laju fotosintesis, pertumbuhan dan hasil (Anaf, 2009).
Pengamatan selanjutnya mengamati tanah yang terinfeksi nematoda, tanah yang terinfeksi nematoda pada tanah sekitar tanaman seledri (Aphium graveolens) morfologinya sama dengan tanah yang terinfeksi nematoda pada tanah sekitar tanah tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) yaitu tanahnya berwarnah hitam, lembab serta mudah hancur ketika di remas.
Nematoda membutuhkan kelembaban yang lembab dan aerasi yang baik. Aerasi berhubungan erat dengan kandungan air tanah, aerasi akan menurun dengan meningkatnya kandungan air tanah sehingga ketersediaan oksigen dalam tanah berkurang. Pertukaran udara dalam tanah mempengaruhi pernafasan nematoda. Perkembangan nematoda akan baik jika keadaan udara dalam tanah cukup. Pada kondisi oksigen rendah dapat menghambat perkembangan dan penetasan telur. Produksi dan pergantian kulit nematoda kebanyakan sangat sensitif terhadap oksigen yang rendah, sedangkan dampak terhadap penetasan telur kurang peka (Anaf, 2009).
4.2.3 Perbedaan nematoda Meloidogyne spp. jantan dan betina
Pengamatan morfologi nematoda terdapat perbedaan morfologi antara nematoda jantan dan betina. Pada mikroskop dengan perbesaran 10x nematoda jantan yang dewasa terlihat bentuk tubuhnya memanjang panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina.
Nematoda jantan dewasa berbentuk memanjang bergerak lambat di dalam tanah, panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina (Anaf, 2009).
Pengamatan morfologi nematoda betina pada mikroskop dengan perbesaran 10x terlihat ukurannya lebih pendek dari pada nematoda jantan, tubuh nematoda betina berbentuk oval, panjang tubuhnya sekitar 5 mm.
Nematoda betina dewasa berbentuk seperti buah pir bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), mempunyai leher pendek dan tanpa ekor. Panjang lebih dari 0,5 mikron dan lebarnya antara 0,3-0,4 mm, stiletnya lemah dan panjangnya 12–15 mm melengkung kearah dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas, (Anaf, 2009).
4.2.4 Tehnik ekstraksi nematoda
Ekstraksi tanah yang terinfeksi nematoda langkah kerja yang harus dilakukan adalah yaitu pertama-pertama menyiapkan talang, keranjang dan kain kasa, kemudian meletakkan keranjang di atas talang, setelah itu melapisi keranjang tersebut dengan kain kasa dan tisue, setelah keranjang terlapisi dengan baik selanjutnya menaburi tanah yang terinfeksi nematoda kedalam keranjang secara merata. Setelah tanah sudah ditaburi langkah selanjutnya memasukan air aquades ke dalam talang sampai tanah sedikit tenggelam. Inkubasikan bahan yang telah siap selama 1x24 jam, setelah 1x24 jam meniris air rendaman tersebut kemudian menyaring air tersebut dengan saringan, setelah itu menyemprot-nyemprotkan saringan dengan hands sprayer di atas cawan petri, selanjutnya mengemati nematoda yang ada dalam cawan petri di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x, kemudian menggambar morfologi nematoda yang terlihat.
Ekstraksi akar yang terserang nematoda langkah kerjanya yaitu pertama-pertama menyiapkan talang, keranjang dan kain kasa, kemudian meletakkan keranjang di atas talang, setelah itu melapisi keranjang tersebut dengan kain kasa dan tisue, setelah keranjang terlapisi dengan baik selanjutnya mencuci akar yang terinfeksi nematoda dengan bersih, setelah bersih langkah selanjutnya adalah memasukan potongan akar kedalam keranjang secara merata. Setelah akar sudah ditaburi langkah selanjutnya memasukan air aquades ke dalam talang sampai akar sedikit tenggelam. Inkubasikan bahan yang telah siap selama 1x24 jam, setelah 1x24 jam meniris air rendaman tersebut kemudian menyaring air tersebut dengan saringan, setelah itu menyemprot-nyemprotkan saringan dengan hands sprayer di atas cawan petri, selanjutnya mengemati nematoda yang ada dalam cawan petri di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x, kemudian menggambar morfologi nematoda yang terlihat.
Cara kerja untuk mengekstraksi Nematoda yaitu Susun berturut-turut dari bawah nampan plastik, nampan saringan, kasa dan tissue. Ambil sampel kemudian ratakan pada tissue yang telah disiapkan tersebut di atas. Tuangkan air pada nampan secara perlahan, sampai tanah yang telah diratakan tersebut basah/air menyentuh tissue dan permukaan air tidak melebihi permukaan sampel. Inkubasikan selama 2x24 jam. Saringan diangkat dan ditiriskan. Air yang tertampung pada nampan disaring dengan menggunakan saringan 200 mesh. Cuci saringan dengan air bersih menggunakan botol semprot. Kemudian masukkan suspensi nematoda ke dalam botol dan disimpan dalam lemari pendingin untuk pengamatan. Tuang suspensi dalam papan hitung untuk pengamatan nematoda sekaligus menghitung populasi nematoda di bawah mikroskop stereo. Nematoda dipancing menggunakan kait nematoda dan diletakkan diatas gelas benda yang telah ditetesi air untuk diamati dibawah mikroskop compound. Catatan untuk pengerjaan sampel tanah ditimbang sebanyak 100 g, untuk pengerjaan sampel akar atau jaringan tanaman, dibersihkan dari tanah atau kotoran yang menempel. Dipotong-potong menggunakan gunting tanaman hingga berukuran 0,5 cm dan ditimbang. Kemudian sampel diblender selama 3 detik (Anonim, 2009).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari pelaksanaan Praktikum Dasar Dasar Perlindungan Tanaman Tantang Pengenalan Nematoda dapat disimpulkan yaitu :
1. Nematoda jantan dewasa berbentuk memanjang bergerak lambat di dalam tanah, panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina sedangkan nematoda betina dewasa berbentuk seperti buah pir bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), mempunyai leher pendek dan tanpa ekor.
2. Gejala umum Penyakit yang disebabkan nematoda tanaman yang terserang menjadi layu, daun bercak-bercak kecoklatan dan terdapat bintil-bintil pada akar.
3. Pengendalian nematoda dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti cara bercocok tanam, sanitasi, kimia dan pengendalian hayati.
5.2 Saran
Saran saya sebagai praktikan agar dalam praktikum Nematoda sebaiknya melakukan ekstraksi dengan berbagai metode sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Anaf, 2009. Nematoda Puru Akar Meloidogyne http://anafzhu.blogspot.com/2009/06/nematoda-puru-akar-meloidogyne-sp.html. Diakses pada tanggal 19 November 2009.
Anonim, 2009. Ciri Morfologi Nematoda. http://mail.uns.ac.id/~subagiya/struktur…
Diakses pada tanggal 11 November 2009.
______, 2009. Pemeriksaan Laboratorium Nematoda
http://www.karantinaonline.com/sprydetail_id.php?idshow=35. Diakses pada tanggal 19 November 2009.
_______, 2009. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Fakultas pertanian Untad, Palu.
Subagia, 2009. Identifikasi Nematoda Parasit Tanaman http://mail.uns.ac.id/~subagiya/Identifikasi%20Nematoda%20Parasit%20Tanaman htm. Diakses tanggal 19 November 2009.
Jumat, 19 Februari 2010
laporan Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman (Pengenalan Penyakit Jamur)
DASAR DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN PENYAKIT TANAMAN
Disebabkan Oleh Jamur
Oleh
MUHAMAD RIDWAN
E 281 08 034
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2009
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budidaya tanaman merupakan suatu kegiatan pertanian yang dilakukan untuk memperoleh hasil pertanian yang maksimal. Namun dalam melakukan pembudidayaan kita tidak pernah luput dari yang namanya penyakit. Penyakit yaitu suatu keadaan yang mana bagian-bagian tertentu dalam tumbuhan secara fisiologis tidak dapat melakukan aktifitas dengan baik.
Penyakit tumbuhan sangat berperan penting dalam dunia pertanian, dimana penyakit tanaman tersebut dapat menyebabkan kerugian langsung pada petani, karena penyakit dapat mengurangi kualitas dan kuantitas hasil, kerugian tersebut timbul karena adanya kerusakan tanaman, kerusakan tersebut dapat ditimbulkan oleh hama maupun penyakit.
Jamur merupakan sekelompok jasad hidup yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi, sebab memiliki dinding sel, tidak bergerak, berkembang biak dengan spora, namun tidak memiliki klorofil. Pada umumnya jamur berbentuk seperti benang bersel banyak dan seluruh bagian dari jamur memiliki potensi untuk tumbuh (Anonim, 2009).
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul IV tentang Pengenalan Penyakit Tanaman Disebabkan Oleh Jamur adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi gejala-gejala penyakit, siklus hidup, dan pengendalian pada tumbuhan yang disebabkan oleh jamur.
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui dan mengidentifikasi gejala-gejala penyakit, siklus hidup, dan pengendalian pada tumbuhan yang disebabkan oleh jamur.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi
Klasifikasi (Colletotrichum capsici) yang menyerang tanaman Cabai (Capsicum annum) yaitu Kingdom Fungi, Divisio Ascomycota, Kelas Sodariomycetes, Ordo Phyllachorales, Famili Phyllachoraceae, Genus Colletotrichum, Spesies (Colletotrichum capsici) ( Irzayanti, 2009).
Fusarium oxyporum yang menyerang tanaman yang menyerang tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum) termasuk Kingdom Fungi, Divisi Amastigomycota, Sub Divisi Deuteromycota, Kelas Deuteromycetes, Ordo Moniliales, Famili Tuberculariaceae dan Genus Fusarium, Spesies (Fusarium oxysporum f. sp. Lycopersici Snyd. Et Hans.) (Roma, 2009).
Phytophthora palmivora mempunyai klasifikasi yaitu Kingdom Stramenophiles, Kelas Oomycetes, Ordo Peronosporales, Famili Pythiaceae, Genus Phytophthora, Spesies (Phytophthora palmivora) (Anonim, 2009).
Fusarium yang menyerang tanaman Pisang (Musa sp.) termasuk Kingdom Fungi, Divisi Amastigomycota, Sub Divisi Deuteromycota, Kelas Deuteromycetes, Ordo Moniliales, Famili Tuberculariaceae dan Genus Fusarium, Spesies (Fusarium oxysporum cubense) (Roma, 2009).
2.2 Siklus Hidup
Siklus hidup (Colletotrichum capsici) yang menyerang tanaman cabai (Capsicum annum) sekitar 20 hari, pada dataran rendah 7-12 hari. Jamur pada buah masuk kedalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit karena konodium jamur dapt bertahan dalam waktu yang lama ( Irzayanti, 2009).
Jamur layu Fusarium pada Tomat (Lycopersicum esculentum) dapat mencemari biji atau menular pada cangkokan. Sekali masuk, jamur dapat bertahan selama bertahun-tahun di tanah. Jamur layu Verticillium juga dapat bertahan didalam tanah, pathogen itu dapat menyerang cakupan luas tanam-tanaman, termasuk kentang, terung, strawberry, black rasberry, dan umumnya pada biji-bijian. Kedua jamur itu menyerang tanaman menyerang system perakaran, masuk melalui serabut akar dan menghambat jalannya air serta mineral dalam tanaman (Andhy, 2009).
Phytophthora palmivora yang menyerang buah kakao (Theobroma cacao) memiliki kisaran inang yang luas dapat menyerang 138 spesies tumbuhan yang termasuk ke dalam bermacam-macam famili. Untuk dapat berkembang biak, cendawan ini memerlukan temperatur dan kelembaban udara tertentu. Perkembangan penyakit makin tinggi pada temperatur optimum 31oC Cendawan ini telah dikenal sejak tahun 1886 di Indonesia dan menjadi penyakit penting pada tanaman perkebunan (Phytophthora palmivora) dapat menyerang bermacam-macam tanaman, dengan demikian sumber inokulum selalu ada dilapangan. Namun yang dianggap sumber inokulum paling penting adalah tanah. (Phytophthora) merupakan marga yang memiliki sporangium yang jelas berbentuk seperti buah jeruk nipis dengan tonjolan di ujungnya. Sporangium ini tidak tahan kering, jika ada air maka sporangium ini akan melepaskan zoospora-nya. Zoospora berenang-renang kemudian membentuk kista pada permukaan tanaman dan akhirnya berkecambah dengan menghasilkan hifa yang pipih yang masuk ke dalam jaringan inang. Pada perkecambahan secara tidak langsung diferensiasi zoospora terjadi di dalam sporangium. Cendawan (Phytophthora palmivora) merupakan cendawan yang mempunyai miselium yang menghasilkan oospora dan zoosporangium. Zoospora mempunyai bulu cambuk. Spora seksual (oospora) dihasilkan oleh penyatu gamet yang berbeda secara morfologi. Zoosporangium dihasilkan sepanjang hifa somatik atau pada ujung hifa dan seperangkat hifa bebas. Sporangium berukuran 36-80 x 26-40 (av 57 x 34) mikron. Oogonium berkisar 26-36 dan 22-32 mikron. Klamidospora siap dibentuk yang memiliki ukuran 32-48 mikron. Zoospora keluar satu persatu melalui papilia yang terdapat pada ujung sporangium. Zoospora mempunyai dua flagella yang tidak sama panjangnya. Pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron diketahui bahwa flagella yang pendek (anterior) mempunyai benang-benang yang disebut mastigonema, sedang yang panjang (posterior) berbulu sangat halus. Jenis (Phytophthora sp.) tertentu membentuk klamidospora bulat, terminal atau interkalar, berdinding agak tebal, mula-mula hialin, akhirnya berwarna kecoklat-coklatan (Anaf, 2009).
Perkembangan (Fusarium oxyporum cubense) pada Pisang (Musa sp.) didukung oleh suhu tanah yang hangat (800 F) dan kelembaban tanah yang rendah sekali. Jamur ini jika sekali menginfeksi akan bertahan bertahun-tahun dan juga dapat bertahan dalam tanah bertahun-tahun (Bagus, 2009).
2.3 Mekanisme Jamur Menginfeksi Tanaman
Jamur (Colletotrichum capsici) pada buah Cabai (Capsicum annum) masuk ke dalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit. Jamur menyerang daun dan batang, kelak dapat menginfeksi buah-buah. Jamur hanya sedikit sekali mengganggu tanaman yang sedang tumbuh, tetapi memakai tanaman ini untuk bertahan sampai terbentuknya buah hijau. Selain itu jamur dapat mempertahankan diri dalam sisa-sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin. Infeksi (Colletotrichum capsici) hanya terjadi melalui luka-luka ( Irzayanti, 2009).
Jamur (Fusarium oxysporum Lycopersici) pada tomat (Lycopersicum esculentum) menginfeksi akar terutama melalui luka, menetap dan berkembang di berkas pembuluh. Setelah jaringan pembuluh mati dan keadaan udara lembab, cendawan membentuk spora yang berwarna putih keunguan pada akar yang terinfeksi. Patogen ini merupakan patogen tular tanah. Penyebaran dapat terjadi melalui angin, air pengairan dan alat pertanian. Layu total dapat terjadi antara 2–3 minggu setelah terinfeksi. Tanaman biasanya layu mulai dari daun bagian bawah dan anak tulang daun menguning. Bila infeksi berkembang, tanaman menjadi layu dalam 2–3 hari setelah infeksi Patogen menyerang jaringan empulur batang melalui akar yang luka atau terinfeksi. Batang yang terserang akan kehilangan banyak cairan dan berubah warna menjadi kecoklatan, tepi bawah daun menjadi kuning tua (layu), merambat ke bagian dalam secara cepat sehingga seluruh permukaan daun tersebut menguning. Tangkai daun patah pada bagian pangkalnya yang berbatasan dengan batang palsu. Kadang-kadang lapisan luar batang palsu terbelah mulai dari permukaan tanah ( Anonim, 2003).
Cendawan yang mengadakan infeksi pada buah Kakao (Theobroma cacao) dapat bersumber dari tanah, batang yang sakit kanker batang, buah yang sakit, dan tumbuhan inang lainnya. (Phytophthora palmivora) terutama bertahan dalam tanah. Dari sini dapat terbawa oleh percikan air hujan ke buah-buah yang dekat tanah. Setelah mengadakan infeksi, dalam waktu beberapa hari (Phytophthora palmivora) pada buah dapat menghasilkan sporangium. Sporangium dapat terbawa oleh percikan air atau oleh angin dan mencapai buah-buah yang lebih tinggi. Cendawan berada dalam tanah dapat juga terangkut oleh serangga, antara lain semut, sehingga dapat mencapai buah-buah yang tinggi. Dari buah-buah yang tinggi, sporangium dapat terbawa air ke buah-buah dibawahnya. Cendawan ini dapat bertahan dalam berbulan-bulan di dalam tanah dalam bentuk sistem (Khlamidospora). Dari buah yang terserang (Phytophthora palmivora) dapat berkembang melalui tangkai dan menyerang bantalan bunga, dan dapat berkembang terus sehingga menyebabkan terjadinya, penyakit kanker batang. Dari sini kelak dapat kembali menyerang buah. Infeksi (Phytophthora palmivora) dapat langsung terjadi antar buah melalui percikan air hujan melalui permukaan tanah, serangga. Biji didalam buah akan rusak selang 15 hari setelah terinfeksi (Phytophthora palmivora) dapat menyerang bermacam-macam tanaman. Meskipun demikian belum diketahui dengan pasti dari berbagai tanaman tadi semuanya dapat menimbulkan penyakit pada kakao. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sumber infeksi selalu ada. Namun yang dianggap sebagai sumber infeksi yang paling utama adalah tanah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengendalikan (Phytophthora palmivora) di dalam tanah tetapi tidak memberikan hasil yang memuaskan (Anonim, 2009).
Fusarium oxysporum cubense yang menyerang tanaman Pisang (Musa sp.) dapat bertahan didalam tanah selama beberapa tahun. Populasi akan meningkat jika di tempat yang sama ditanam tanaman yang merupakan inangnya. Jamur ini menginfeksi tanaman melalui jaringan meristem pada ujung akar, melalui epidermis pada zona memanjangnya akar, melalui celah-celah yang terjadi karena munculnya akar lateral baru dan melalui stomata pada daun-daun yang dekat dengan permukaan tanah, kemudian patogen ini berkembang dalam pembuluh kayu yang menghalangi translokasi air. Jika pembuluh kayu cukup tersumbat maka mengakibatkan tanaman menjadi layu. Infeksi pertama dimulai dari akar sehingga mengakibatkan timbulnya bercak kuning kecoklatan pada daun, dalam waktu relatif singkat daun seluruhnya menguning kemudian layu dan akhirnya gugur. Semua daun dapat mengalami hal yang sama. Pada mulanya terjadi kematian satu tanaman, yang kemudian diikuti oleh yang lainnya. Infeksi yang dilakukan oleh (Fusarium oxysporum cubense) terjadi melalui luka pada akar saat pemindahan tanaman. Pada pisang (Fusarium oxysporum cubense) menyerang pada saat tanaman berumur 2–3 minggu dan gejalanya baru tampak pada saat tanaman berumur 5–6 minggu. Misellium dari jamur ini menyerang jaringan pembuluh dan merintangi pembuluh xylem, sehingga menghambat translokasi air. Jika pembuluh sudah tersumbat, mengakibatkan busuk. Fusarium juga diketahui menghasilkan toksin asam fusarat yang mengakibatkan pembusukkan karena penembusan pada membran-membran sel dan metabolisme sel (Roma, 2009).
2.4 Gejala Serangan
Jamur (Colletotrichum capsici) mula-mula membentuk bercak cokelat kehitaman, yang lalu meluas menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok seta dan konidium jamur. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah mongering dan mengerut (keriput). Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami. Jika cuaca kering jamur hanya membentuk bercak kecil yang tidak meluas. Tetapi kelak setelah buah dipetik, karena kelembaban udara yang tinggi selama disimpan dan diangkut, jamur akan berkembang dengan cepat. Gejala seranganya awal berupa bercak coklat kehitaman pada permukaan buah, kemudian menjadi busuk lunak (Irzayanti, 2008).
Gejala serangan (Fusarium oxyporum Lycopersici) pada tomat (Lycopersicum esculentum) yang mana awalnya tulang-tulang daun sebelah atas menjadi pucat, tangkai daun merunduk dan tanaman menjadi layu. Layu total dapat terjadi antara 2-3 minggu setelah terinfeksi. Tandanya dapat dilihat pada jaringan angkut tanaman yang berubah warna menjadi kuning atau coklat. Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama dan bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin-mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, maupun air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini ( Irzayanti, 2008).
Buah kakao (Theobroma cacao) yang terserang tampak berbercak coklat kehitaman, dari ujung atau pangkal buah. Infeksi (Phytophthora palmivora) pada buah menunjukkan gejala bercak berwarna kelabu kehitaman. Biasanya bercak tersebut terdapat pada ujung buah. Bercak mengandung air yang kemudian berkembang sehingga menunjukkan warna hitam. Bagian buah menjadi busuk dan biji pun turut membusuk. Kerusakan oleh (Phytophthora palmivora) dapat bervariasi mulai ringan, sedang sampai buah tidak dapat dipanen. Kerusakan berat bila cendawan ini masuk kedalam buah dan menyebabkan pembusukan pada biji. Bila menyerang buah pentil, menyebabkan buah termumifikasi sedangkan serangan pada buah muda menyebabkan pertumbuhan biji terganggu yaitu menjadi lunak dan berwarna coklat kehijau-hijauan dan akibatnya mempengaruhi penurunan kualitas biji. Serangan pada buah yang hampir masak tidak begitu berpengaruh pada pertumbuhan biji namun terjadi biji lembek dan akhirnya penurunan aroma biji yang kurang baik (Anonim, 2009).
Gejala serangan (Fusarium oxyporum cubense) pada tanaman Pisang (Musa sp.) pada penyakit layu Fusarium batang yang dipotong tidak mengeluarkan lendir kemerahan, dan juga tidak terjadi perubahan warna pada bagian dalam buah ( Irzayanti, 2008).
2.5 Pengendalian
Pengendalian Jamur (Colletotrichum capsici) dapat dilakukan dengan tidak menanam biji yang terinfeksi. Buah-buah yang terinfeksi jangan diambil bijinya. Biji dapat diobati dengan Thram 0,2%, yang mana di India obat tersebut dapat mematikan jamur tanpa mempengaruhi perkecambahan benih. Perlakuan seed treatmen, Sanitasi gulma dan buah cabai yang terserang penyakit busuk buah, Menanam benih bebas patogen, Pergiliran tanaman, Perbaikan drainase, serta pemanfaatan Agens Hayati antagonis atau memanfaatkan mikroba (Pseudomonas flourencens) dan (Bacillus subtilis) (Anonim 2009).
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan dianjurkan. penyakit layu yang disebabkan (Fusarium oxysporum) adalah dengan kultur tekhnis yaitu dengan pemberian pupuk kandang, penjarangan anakan, rotasi dengan tanaman bukan inang, pembuatan drainase, menghindari terjadinya luka pada akar, menggunakan benih sehat, dan pengapuran. Kemudian ada cara biologi aplikasi agens hayati misalnya (Trichoderma spp.), (Gliocladium sp.), (Pseudomonas fluorescens), Bacillus subtilis sebelum atau pada saat tanam yang diintroduksikan bersama dengan kompos. Pada tahun 2000, Suprapta menemukan formula ”Biota-L” berupa daun sirih dan rimpang lengkuas sebagai pestisida nabati dan formula ”Persada”yang terdiri dari empat jenis mikroba (Gliocladium sp.), (Fusarium oxysporum), (Pseudomonas flourescens) dan (Streptomyces) sebagai bahan aktif (Roma, 2009).
Pengendalian (Phytophthora palmivora) dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm, kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanamannya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun juga dapat dilakukan dengan penggunaan agensi hayati seperti (Trichoderma sp.). (Anonim, 2009).
Pengendalian (Fusarium oxyporum cubense) dapat dilakukan Sanitasi, Memperbaiki pengairan, Menggunakan benih sehat, Pergiliran Tanaman, memenfaatkan (Trichoderma) dan (Gliocladium), Menggunakan varietas tahan (Anonim, 2009).
III. METODE PRAKTEK
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul IV tentang Pengenalan Penyakit Tanaman Disebabkan Oleh Jamur dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu dan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 4 November 2009 pukul 14.00 WITA sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul IV tentang Pengenalan Penyakit Tanaman Disebabkan Oleh Jamur yaitu alat tulis menulis dan alat pertanian.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cabai (Capsicum annum) yang terserang (Colletotrichum capsici), tanaman kakao (Theobroma cacao) yang terserang (Phytophthora palmivora), tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) yang terserang (Fusarium oxyporum), dan tanaman pisang (Musa sp.) yang terserang (Fusarium oxyporum).
3.3 Cara Kerja
Pertama yang dilakukan adalah mengambil dan mengamati spesimen tanaman yang menunjukan gejala penyakit, lalu menggambar spesimen yang ada dengan jelas dan memberikan penjelasan serta gejala serangannya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul IV tentang Pengenalan Penyakit Tanaman disebabkan oleh Jamur didapatkan hasil sebagai berikut :
Keterangan :
1. bercak-bercak berwarnah hitam
2. Lubang pada buah.
3. Mengkerut dan kempes.
Gambar 44. Morfologi Cabai (Capsicum annum) yang Terserang (Colltotrichum capsici).
Keterangan :
1. Daun yang mongering dan mengkerut,
2. warna batang terlihat berwarna kehijau-hijauan.
Gambar 45. Morfologi Tomat (Lycopersicum esculentum) yang Terserang (Fusarium oxysporum).
Keterangan :
1. Permukaan kulit berwarna hitam bercak kuning.
2. Buah mengkerut
3. Lunak
Gambar 46. Morfologi Kakao (Theobrema cacao) yang Terserang (Phytophthora palmivora).
Keterangan :
1. Batang berlendir
2. Pinggir-Pinggir serat Batang Berwarnah Merah
3. Batang semu, pada bagian pinggirnya terlihat tidak normal.
Gambar 47. Morfologi Batang Pisang (Musa sp.) yang Terserang (Fusarium oxyporum).
keterangan :
1. Biji Berwarnah Coklat Kehitaman
2. Ada tanda Jamur
Berwarnah Putih pada
kulit
3. Biji Tidak Beraturan
Gambar 48. Morfologi Biji Buah Kakao (Theobroma cacao) yang terserang (Phytophthora palmivora).
4.2 Pembahasan
Pengamatan pertama yaitu morfologi Cabai (Capsicum annum) yang terserang (Colletotrichum capsici) tampak terlihat bercak-bercak berwarnah hitam, pada cabai terlihat lubang. Cabai (Capsicum annum) terlihat mengkerut dan kempes, serta tangkai cabai (Capsicum annum) mudah terlepas.
Jamur (Colletotrichum capsici) mula-mula membentuk bercak cokelat kehitaman, yang lalu meluas menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok seta dan konidium jamur. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah mongering dan mengerut (keriput). Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami. Jika cuaca kering jamur hanya membentuk bercak kecil yang tidak meluas. Tetapi kelak setelah buah dipetik, karena kelembaban udara yang tinggi selama disimpan dan diangkut, jamur akan berkembang dengan cepat. Gejala seranganya awal berupa bercak coklat kehitaman pada permukaan buah, kemudian menjadi busuk lunak (Anonim, 2009).
Siklus hidup sekitar 20 hari, pada dataran rendah 7-12 hari. Jamur pada buah masuk kedalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit karena konodium jamur dapt bertahan dalam waktu yang lama ( Irzayanti, 2009).
Pengendalian Cabai (Capsicum annum) yang terserang Jamur (Colletotrichum capsici) dapat dilakukan sanitasi, pemusnahan pohon yang cabai yangp terserang Jamur (Colletotrichum capsici). Pengendalian juga dapat dilakukan dengan menggunakan benih yang sehat dan tahan terhadap Jamur (Colletotrichum capsici).
Pengendalian Jamur (Colletotrichum capsici) dapat dilakukan dengan tidak menanam biji yang terinfeksi. Buah-buah yang terinfeksi jangan diambil bijinya. Biji dapat diobati dengan Thram 0,2%, yang mana di India obat tersebut dapat mematikan jamur tanpa mempengaruhi perkecambahan benih. Perlakuan seed treatmen, Sanitasi gulma dan buah cabai yang terserang penyakit busuk buah, Menanam benih bebas patogen, Pergiliran tanaman,Perbaikan drainase, serta pemanfaatan Agens Hayati antagonis atau memanfaatkan mikroba (Pseudomonas Flourencens) dan (Bacillus subtilis) (Anonim 2009).
Pengamatan Morfologi Tomat Morfologi Tomat (Lycopersicum esculentum) yang terserang (Fusarium oxysporum Lycopersici) terlihat gejala serangannya yaitu daun Tomat (Lycopersicum esculentum) terlihat kering yang mana semua daunnya mengkerut, warna batang terlihat berwarna hijau kekuning-kuningan. Pada batang yang diris secara horizontal terlihat lubang-lubang.
Gejala serangan (Fusarium oxyporum Lycopersici) pada tomat (Lycopersicum esculentum) yang mana awalnya tulang-tulang daun sebelah atas menjadipucat, tangkaidaun merunduk dan tanaman menjadi layu. Layu total dapat terjadi antara 2-3 minggu setelah terinfeksi. Tandanya dapat dilihat pada jaringan angkut tanaman yang berubah warna menjadi kuning atau coklat. Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama dan bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin-mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, maupun air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini (Irzayanti, 2009).
Jamur layu (Fusarium) pada ladang dapat mencemari biji atau menular pada cangkokan. Sekali masuk, jamur dapat bertahan selama bertahun-tahun di tanah. Jamur layu (Verticillium) juga dapat bertahan didalam tanah, pathogen itu dapat menyerang cakupan luas tanam-tanaman, termasuk kentang, terung, strawberry, black rasberry, dan umumnya pada biji-bijian. Kedua jamur itu menyerang tanaman menyerang system perakaran, masuk melalui serabut akar dan menghambat jalannya air serta mineral dalam tanaman (Andhy, 2009).
Pengendalian (Fusarium oxyporum Lycopersici) pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) dilakukan dengan cara melakukan sanitasi yang baik, menggunkan bibit unggul untuk dibudidayakan, pemberian pupuk yang rutin dan memusnahkan tanaman yang terserang (Fusarium oxyporum Lycopersici).
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan dianjurkan. penyakit layu yang disebabkan (Fusarium oxysporum Lycopersici) adalah dengan kultur tekhnis yaitu dengan pemberian pupuk kandang, penjarangan anakan, rotasi dengan tanaman bukan inang, pembuatan drainase, menghindari terjadinya luka pada akar, menggunakan benih sehat, dan pengapuran. Kemudian ada cara biologi aplikasi agens hayati misalnya (Trichoderma spp.), (Gliocladium sp.), (Pseudomonas fluorescens), (Bacillus subtilis) sebelum atau pada saat tanam yang diintroduksikan bersama dengan kompos. Pada tahun 2000, Suprapta menemukan formula ”Biota-L” berupa daun sirih dan rimpang lengkuas sebagai pestisida nabati dan formula ”Persada”yang terdiri dari empat jenis mikroba (Gliocladium sp.), (Fusarium oxysporum), (Pseudomonas flourescens) dan (Streptomyces) sebagai bahan aktif. Fusarium adalah jamur tular tanah (soilborne) yang mempunyai banyak spesies dan kisaran inang seperti tomat, kacang tanah, kacang panjang, kedelai dan lain-lainnya. Jamur menginfeksi akar terutama melalui luka, menetap dan berkembang di berkas pembuluh. Setelah jaringan pembuluh mati dan keadaan udara lembab, cendawan membentuk spora yang berwarna putih keunguan pada akar yang terinfeksi. Patogen ini merupakan patogen tular tanah. Penyebaran dapat terjadi melalui angin, air pengairan dan alat pertanian. Layu total dapat terjadi antara 2–3 minggu setelah terinfeksi. Tanaman biasanya layu mulai dari daun bagian bawah dan anak tulang daun menguning. Bila infeksi berkembang, tanaman menjadi layu dalam 2–3 hari setelah infeksi. Jika tanaman sakit dipotong dekat pangkal batang akan terlihat gejala cincin coklat dari berkas pembuluh. Warna jaringan akar dan batang menjadi coklat. Tempat luka infeksi tertutup hifa yang berwarna putih seperti kapas (Roma, 2009).
Pengamatan morfologi pada Kakao (Theobroma cacao) yang terserang (Phytophthora palmivora) terlihat dimana kakoa (Theobroma cacao) permukaan kulit berwarna hitam dengan sedikit bercak-bercak berwarna kuning, buah yang terserang sangat lembek, serta ukuran buah tidak normal.
Infeksi (Phitophthora palmivora) pada buah menunjukkan gejala bercak berwarna kelabu kehitaman. Biasanya bercak tersebut terdapat pada ujung buah. Bercak mengandung air yang kemudian berkembang sehingga menunjukkan warna hitam. Bagian buah menjadi busuk dan biji pun turut membusuk. Pembentukan spora terlihat dengan adanya warna putih di atas bercak hitam yang telah meluas. Pada temperatur 27,5 sampai 30o C pertumbuhan spora ini sangat cepat. Infeksi (Phytophthora palmivora) dicirikan dengan adanya bercak berwarna coklat yang mulai dari bagian mana saja. Jaringan yang tidak terinfeksi tampak jelas dan dibatasi oleh permukaan kasar, tetapi bercak dapat berkembang dengan cepat dan seringkali menampakkan pembusukan yang menyeluruh dan berwarna hitam. Pertumbuhan cendawan pada bagian-bagian luar kakao lebih cepat, tetapi infeksi yang menyeluruh dapat menyebabkan kerusakan pada biji. Busuk buah dapat ditemukan pada semua tingkatan buah, sejak buah masih kecil sampai menjelang masak warna buah berubah, umumnya mulai ujung buah atau dekat dengan tangkai kemudian meluas keseluruh permukaan buah dan akhirnya buah menjadi hitam. Pada permukaan buah yang sakit dan menjadi hitam tadi timbul lapisan berwarna putih tepung yang merupakan cendawan sekunder yang banyak membentuk spora. Pada permukaan buah juga banyak ditemukan sporangiofor dan sporangium cendawan. Kerusakan oleh (Phytophthora palmivora) dapat bervariasi mulai ringan, sedang sampai buah tidak dapat dipanen. Kerusakan berat bila cendawan ini masuk kedalam buah dan menyebabkan pembusukan pada biji. Bila menyerang buah pentil, menyebabkan buah termumifikasi sedangkan serangan pada buah muda menyebabkan pertumbuhan biji terganggu yaitu menjadi lunak dan berwarna coklat kehijau-hijauan dan akibatnya mempengaruhi penurunan kualitas biji. Serangan pada buah yang hampir masak tidak begitu berpengaruh pada pertumbuhan biji namun terjadi biji lembek dan akhirnya penurunan aroma biji yang kurang baik. Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab (Anonim, 2009).
Phytophthora palmivora merupakan marga yang memiliki sporangium yang jelas berbentuk seperti buah jeruk nipis dengan tonjolan di ujungnya. Sporangium ini tidak tahan kering, jika ada air maka sporangium ini akan melepaskan zoosporanya. Zoospora berenang-renang kemudian membentuk kista pada permukaan tanaman dan akhirnya berkecambah dengan menghasilkan hifa yang pipih yang masuk ke dalam jaringan inang. Pada perkecambahan secara tidak langsung diferensiasi zoospora terjadi di dalam sporangium. Cendawan (Phitophthora palmivora) merupakan cendawan yang mempunyai miselium yang menghasilkan oospora dan zoosporangium. Zoospora mempunyai bulu cambuk. Spora seksual (oospora) dihasilkan oleh penyatu gamet yang berbeda secara morfologi. Zoosporangium dihasilkan sepanjang hifa somatik atau pada ujung hifa dan seperangkat hifa bebas. Sporangium berukuran 36-80x26-40 (av 57x34) mikron. Oogonium berkisar 26-36 dan 22-32 mikron. Klamidospora siap dibentuk yang memiliki ukuran 32-48 mikron. Zoospora keluar satu persatu melalui papilia yang terdapat pada ujung sporangium. Zoospora mempunyai dua flagella yang tidak sama panjangnya. Pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron diketahui bahwa flagella yang pendek (anterior) mempunyai benang-benang yang disebut mastigonema, sedang yang panjang (posterior) berbulu sangat halus. Jenis (Phytophthora sp.) tertentu membentuk klamidospora bulat, terminal atau interkalar, berdinding agak tebal, mula-mula hialin, akhirnya berwarna kecoklat-coklatan (Anonim. 2009).
Pengendalian dapat dilakukan dengan mengeluarkan semua buah yang terserang, kemudian menimbun kulit buah yang terserang, melakuka sanitasi tanpa merusak sisa daun yang berada disekitar pohon karna untuk mencegah (Phytophthora palmivora) menyerang kakao (Theobrema cacao).
Penyakit (Phitophthora palmivora) ini dapat dikendalikan dengan memadukan berbagai teknik pengendalian seperti varietas tahan, kultur teknis, secara mekanis dan secara kimiawi. Menanam klon-klon yang relatif resisten terhadap penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora) yaitu DRC 16, Sca 6, Sca 12 dan ICS 6. Mengatur kelembaban kebun agar tidak terlalu tinggi, dengan cara mengatur naungan dan pemangkasan tanaman kakao. Drainase kebun, diperbaiki agar perkembangan penyakit terhambat. Buah-buah yang busuk di pohon diambil dan dikumpulkan, kemudian dipendam sedalam kurang lebih 30 cm dari permukaan tanah. Hal ini dapat menekan sumber infeksi serendah mungkin sehingga terhambat terjadinya infeksi baru. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menyemprotkan fungisida. Fungisida yang dapat digunakan adalah fugisida tembaga 0,3 %, dengan interval dua minggu, dan fungisida maneb 0,2 % dengan interval 1–2 minggu. Penyemprotan dengan menggunakan knapsack sprayer dengan volume semprot 500 1/hari dan dilakukan pada saat buah sebagian besar telah berumur tiga bulan atau panjang buah sekitar 12 cm. Untuk aplikasi semua kelompok pestisida (insektisida, fungisida, herbisida, nematisida, rodentisida, dan yang lain) harus mengikuti prinsip 5 tepat yaitu tepat jenis dan mutu, tepat waktu, tepat konsentrasi, tepat dosis, dan tepat cara (Anaf, 2009).
Pengamatan pisang (Musa sp) terlihat gejala serangan yaitu batang pisang berlendir pinggir batang pisang tampak terlihat berwarna merah, pada daun saat pengambilan bahan terlihat daun mengering dan tampak tergulung-gulung.
Gejala serangan (Fusarium oxyporum cubense) Pada penyakit layu Fusarium batang yang dipotong tidak mengeluarkan lendir kemerahan, dan juga tidak terjadi perubahan warna pada bagian dalam buah (Irzayanti, 2008).
Fusarium oxysporum cubense dapat bertahan didalam tanah selama beberapa tahun. Populasi akan meningkat jika di tempat yang sama ditanam tanaman yang merupakan inangnya. Jamur ini menginfeksi tanaman melalui jaringan meristem pada ujung akar, melalui epidermis pada zona memanjangnya akar, melalui celah-celah yang terjadi karena munculnya akar lateral baru dan melalui stomata pada daun-daun yang dekat dengan permukaan tanah, kemudian patogen ini berkembang dalam pembuluh kayu yang menghalangi translokasi air. Jika pembuluh kayu cukup tersumbat maka mengakibatkan tanaman menjadi layu. Infeksi pertama dimulai dari akar sehingga mengakibatkan timbulnya bercak kuning kecoklatan pada daun, dalam waktu relatif singkat daun seluruhnya menguning kemudian layu dan akhirnya gugur. Semua daun dapat mengalami hal yang sama. Pada mulanya terjadi kematian satu tanaman, yang kemudian diikuti oleh yang lainnya. Infeksi yang dilakukan oleh (Fusarium oxysporum cubense) terjadi melalui luka pada akar saat pemindahan tanaman. Pada tanaman pisang (Fusarium oxysporum cubense) menyerang pada saat tanaman berumur 2–3 minggu dan gejalanya baru tampak pada saat tanaman berumur 5–6 minggu. Misellium dari jamur ini menyerang jaringan pembuluh dan merintangi pembuluh xylem, sehingga menghambat translokasi air. Jika pembuluh sudah tersumbat, mengakibatkan busuk. (Fusarium) juga diketahui menghasilkan toksin asam fusarat yang mengakibatkan pembusukkan karena penembusan pada membran-membran sel dan metabolisme sel (Roma, 2009).
Pengendalian dapat dilakukan dengan melakukan pemupukan, sanitasi yang baik dan juga memusnahkan semua pisang (Musa sp.) yang terserang sehingga tidak dapat menular ketanaman pisang lainnya.
Sanitasi,Memperbaiki pengairan, Menggunakan benih sehat,Pergiliran Tanaman, memanfaatkan (Trichoderma) dan (Gliocladium), Menggunakan varietas tahan (Anonim, 2009).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari pelaksanaan Praktikum Modul IV Tantang Pengenalan Penyakit Tanaman disebabkan Oleh Jamur dapat disimpulkan yaitu :
1. Penyakit yaitu suatu keadaan yang mana bagian-bagian tertentu dalam tumbuhan secara fisiologis tidak dapat melakukan aktifitas dengan baik.
2. Gejala umum yang disebabkan jamur yaitu layu pada tanaman yang terserang, bercak-bercak hitam pada daun dan buah,serta buah menjadi busuk.
3. Pada umumnya jamur berbentuk seperti benang bersel banyak dan seluruh bagian dari jamur memiliki potensi untuk tumbuh
4. Pengendalian jamur secara umum dapat dilakukan dengan cara sanitasi yang baik, melakukan pergiliran tanaman serta menanam tanaman yang tahan terhadap penyakit serta menggunakan agensi hayati.
5.2 Saran
Saran saya sebagai praktikan agar dalam mengendalikan serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur sebaiknya jangan menggunakan pestisida, karena jika digunakan dalam kadar yang tinggi maka akan menyebabkan resistensi pada tanaman itu sendiri dan juga akan berdampak negatif buat tanaman, tanah dan petani itu sendiri. Sebaiknya menggunakan agensi hayati seperti (Trichoderma sp.)
DAFTAR PUSTAKA
Anaf, 2009. Busuk Buah Kakao (Phytophthora palmivora). http://anafzhu.blogspot.com/2009/06/busuk-buah kakaophytophthorapalmivora.html. Diakses pada Tanggal 6 November 2009.
Andhy, 2009. Penyakit Layu pada Tomat. http://andhy-jamur.blogspot.com/. Diakses pada Tanggal 6 November 2009.
Anonim, 2003. Pencarian Gambar. (http=//Labmed.vcst/Education/fung morph/Fungal site/Thumbnails,Jgg. Diakses Tanggal 6 November 2009).
_______, 2009. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Fakultas pertanian Untad, Palu.
_______, 2009. Hama Penyakit. http://bleckmen.wordpress.com/category/cacao-theobroma-cacao/. Diakses Tanggal 6 November 2009.
_______, 2009. Budidaya Tanaman Cabai. www.diperta.jabarprov.go.id/.../Budidaya%20Tanaman%20%20Cabe.doc. Diakses pada Tanggal 6 November 2009.
Bagus, 2009. Layu Fusarium. http://Jhiagocle.blogspot.com/layu-fusarium. Diaksese pada Tanggal 6 November 2009.
Irzayanti D., 2009. Penyakit–Penyakit Tanaman Kubis–Kubisan. http://deasyirzayanti.blog.com/. Diakses pada Tanggal 6 November 2009.
Roma, 2009. Efektifitas Trichoderma sp. Dari Empat Lokasi Wilayah Banjarbaru Terhadap Fusarium Oxysporum Penyebab Penyakit Layu Tomat. http://romacute.wordpress.com/. Diakses pada Tanggal 6 November 2009.
laporan Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman (Gulma)
DASAR DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN GULMA
Oleh
MUHAMAD RIDWAN
E 281 08 034
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2009
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budidaya tanaman merupakan upaya dalam pertanian untuk menghasilkan produksi yang maksimal. Dalam melakukan budidaya tanaman kita tidak terlepas dengan yang namanya gangguan, baik gangguan dari hama, penyakit, nematoda maupun gulma.
Gulma antara lain didefinisikan sebagai tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki manusia. Hal ini dapat berarti tumbuhan tersebut merugikan baik secara langsung atau tidak langsung atau kadang-kadang juga belum diketahui kerugian maupun kegunaannya. Oleh karena batasan untuk gulma ini sebetulnya sangat luas sehingga dapat mencakup semua jenis tanaman dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Angga, 2009).
Gulma adalah tumbuhan lain yang tumbuh pada lahan tanaman budidaya atau semua tumbuhan yang tumbuh pada tempat (area) yang tidak diinginkan oleh petani sehingga kehadirannya dapat merugikan tanaman lain yang ada di dekat atau disekitar tanaman pokok tersebut. Beberapa pendapat para ahli gulma yang lain ada yang mengatakan bahwa gulma disebut juga sebagai tumbuhan pengganggu atau tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya, tidak diinginkan dan menimbulkan kerugian. Kehadiran gulma pada lahan pertanian atau pada lahan perkebunan dapat menimbulkan berbagai masalah. Secara umum masalah-masalah yang ditimbulkan gulma pada lahan tanaman budidaya ataupun tanaman pokok adalah terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok (tanaman budidaya) dalam hal penyerapan zat makanan atau unsur-unsur hara di dalam tanah, penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang tempat tumbuh. Sebagai tempat hidup atau inang, maupun tempat berlindung hewan-hewan kecil, insekta dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat berkembang biak dengan baik. Akibatnya hama tersebut akan menyerang dan memakan tanaman pokok ataupun tanaman budidaya. Mempersulit pekerjaan diwaktu panen maupun pada saat pemupukan. Dapat menurunkan kualitas produksi (hasil) dari tanaman budidaya, misalnya dengan tercampurnya biji-biji dari gulma yang kecil dengan biji tanaman budidaya (Tustiana, 2009).
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman tentang Pengenalan Gulma adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis gulma yang tumbuh di areal pertanaman bawang merah (Allium ascolanicum).
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengidentifikasi dan membedakan ciri morfologi dari gulma yang tumbuh di ereal pertanaman bawang merah (Allium ascolanicum).
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sifat-Sifat Gulma
Gulma merupakan tumbuhan yang mempunyai sifat dan ciri khas tertentu, yang umumnya berbeda dengan tanaman pokok atau tanaman budidaya. Sifat-sifat dari gulma tersebut antara lain gulma mudah tumbuh pada setiap tempat atau daerah yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai tempat yang kaya nutrisi. Gulma dapat bertahan hidup dan tumbuh pada daerah kering sampai daerah yang lembab bahkan tergenangpun masih dapat bertahan. Kemampuan gulma untuk mengadakan regenerasi atau perkembangbiakan memperbanyak diri besar sekali, khususnya pada gulma perennial. Gulma perennial (gulma yang hidupnya menahun) dapat pula menyebar luas dengan cara perkembangbiakan vegetatif disamping secara generatif. Luasnya penyebaran gulma disebabkan oleh sifat daun yang dapat bermodifikasi, yaitu tumbuh menjadi tumbuhan baru seperti pada daun Cocor bebek (Calanchoe sp). Demikian juga dengan bagian-bagian tumbuhan gulma yang lain dapat pula tumbuh menjadi individu gulma yang baru, seperti akar, batang, umbi dan lain sebagainya. Inilah yang memungkinkan gulma unggul dalam persaingan (berkompetisi) dengan tanaman budidaya. Gulma juga dapat menghasilkan biji dalam jumlah yang sangat banyak, ini pulalah yang memungkinkan gulma cepat berkembang biak. Dalam berkompetisi dengan tanaman budidaya tumbuhan gulma juga ada yang mengeluarkan bau dan rasa yang kurang sedap, bahkan dapat mengeluarkan zat pada sekitar tempat tumbuhnya. Zat itu berbentuk senyawa kimia seperti cairan berupa toksin (racun) yang dapat mengganggu atau menghambat pertumbuhan tanaman lain yang ada disekitar gulma tersebut, (kejadian tersebut dikenal juga dengan peristiwa allelopati) (Johnny, 2006).
2.2 Teki-Tekian
Spesies-spesies gulma dari marga Cyperaceae yang memiliki penampang batang segitiga, daunnya berbentuk garis (linearis). Contoh yang termasuk kelompok ini Cyperus rotundus dan Fymbristilis miliaceae (Anonim, 2008).
Kelompok gulma teki-tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam menguasai areal pertanian secara cepat. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllinga), dan (Scirpus moritimus) (Anonim, 2009).
2.3 Gulma Berdaun Lebar
Spesies-spesies gulma dengan bentuk daun bulat panjang (oblongus), lanset (lanceolatus), bulat telur (ovatus), lanset terbalik (oblanceolatus), jantung (cordatus), segitiga sama sisi (sagittatus) dan bentuk elips. Kelompok ini memiliki arah pertumbuhan batang tegak, berbaring, menjalar, memanjat, dan melilit. Kelompok gulma daun lebar terdiri dari spesies-spesies class Dicotyledonae, termasuk didalamnya marga-marga Euphorbiaceae, Amaranthaceae, Asteraceae, Mimosaceae, Leguminoceae, Rubiaceae, Commelinaceae, dan sebagainya (Anonim, 2008).
Berbagai macam gulma dari anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta titik tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa pudica) (Anonim, 2009).
2.4 Perkembangbiakan Gulma
Perkembangbiakan (reproduksi) gulma bermacam-macam seperti Dengan biji. Sebagian besar gulma berkembangbiak dengan biji dan menghasilkan jumlah biji yang sangat banyak seperti biji pada Amaranthus spinosus, Cynodon dactylon, Eragrostis amabilis. Biji-biji gulma dapat tersebar jauh karena ukurannya kecil sehingga dapat terbawa angin, air, hewan dan sebagainya dengan demikian penyebarannya juga lebih luas. Berkembang biak dengan Stolon. Adapula gulma yang dapat membentuk individu baru dengan stolon yaitu bagian batang menyerupai akar yang menjalar di atas permukaan tanah. Dimana batang ini terdiri dari nodus (buku) dan internodus (ruas), pada setiap nodus dapat keluar serabut-serabut akar dan tunas sehingga dapat mebentuk individu baru. Contoh gulma ini adalah: Paspalum conjugatum, Cynodon dactylon. Rhizome (akar rimpang) Yaitu batang beserta bagian-bagiannya yang manjalar di dalam tanah, bercabang-cabang, tumbuh mendatar dan pada ujungnya atau pada buku dapat muncul tunas yang membentuk individu baru. Tuber (umbi), Umbi merupakan pembengkakan dari batang atupun akar yang digunakan sebagai tempat penyimpanan atau penimbun makanan cadangan, sehingga umbi tersebut bisa membesar. Pada beberapa bagian dari umbi tersebut terdapat titik (mata) yang pada saatnya nanti bisa muncul atau keluar tunas yang merupakan individu baru dari gulma tersebut. Bulbus (umbi lapis), Bulbus juga termasuk umbi yang merupakan tempat menyimpan makanan cadangan tetapi bentuknya berlapis-lapis. Gulma golongan ini dapat ditemukan pada keluarga Allium, contoh: Allium veneale (bawang-bawang). Pada beberapa jenis gulma juga dapat berkembangbiak dengan daunnya yang telah dewasa. Daun ini berbentuk membulat ataupun oval, pada pinggir daun bergerigi atau terdapat lekukan yang nantinya tempat muncul tunas menjadi individu baru. Contohnya: Calanchoe sp. (cocor bebek), Ranunculus bulbasus. Runner (Sulur) Stolon yang keluar dari ketiak daun dimana internodianya (ruas) sangat panjang, membentuk tunas pada bagian ujung. Contoh: Eichornia crassipes, dan juga berkembang biak dengan Spora, dimana spora ini bila telah matang dapat diterbangkan oleh angina. Contoh gulma ini kebanyakan dari keluarga paku-pakuan seperti: Nephrolepsis bisserata, Lygopodiu sp. (Johnny, 2006).
2.5 Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma bertujuan untuk menekan kerugian yang ditimbulkan oleh gulma. Pada perinsipnya pengendalian gulma dapat dilakukan secara preventif, kultur tehnis, mekanik, kimiawi, dan terpadu. Pengendalian secara preventif dilakukan dengan cara pengadaan benih bersih biji gulma, penggunaan alat pertanian yang bersih gulma. Pengendalian secara kultur tehnis didasarkan pada segi-segi ekologi yang berusaha menciptakan suatu keadaan lingkungan sedemikian rupa sehingga sesuai bagi pertumbuhan tanaman tetapi tidak sesuai bagi pertumbuhan gulma. Pengendalian mekanik dilakukan dengan menggunakan cangkul, garpu, congkel, sabit dan lain-lainnya. Sedangkan pengendalian secara biologis adalah pengendalian gulma dengan menggunakan jasad hidup seperti predator/musuh alami. Pengendalian gulma secara kimiawi adalah cara pengendalian menggunakan herbisida. Pengendalian ini cukup efektif dan efisien untuk areal yang luas, tetapi dapat menimbulkan kendala lain misalnya keracunan dan kerusakan lingkungan (Anonim, 2008).
III. METODE PRAKTEK
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman tentang Pengenalan Gulma dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu dan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 02 Desember 2009 pukul 14.00 WITA sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman tentang Pengenalan Gulma yaitu alat tulis menulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu gulma yang berada dalam lahan pertanaman bawang merah (Allium ascolanicum) yaitu Cyperus pumillus, Amaranthus gracillis, Mimosa pudica, dan Elatine triandra.
3.3 Cara Kerja
Cara kerja modul Pengenalan Gulma yaitu pertama yang dilakukan adalah mengambil gulma yang menyerang pada lahan budidaya, setelah itu membawanya ke laboratorium. Langkah selanjutnya adalah mengamati dan mengambar morfologi gulma pada buku gambar.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman tentang Pengenalan Gulma didapatkan hasil sebagai berikut :
Keterangan :
1. Terlihat Berdaun Sempit
2. Terlihat Batang Kecil dan Berbuku-buku
3. Terlihat akar serabut
Gambar 59. Morfologi Gulma Cyperus pumilus pada Pertanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum).
Keterangan :
1. Terlihat Berdaun Lebar
2. Terlihat Berbatang Lunak
3. Terlihat Akar Tunggang
Gambar 60. Morfologi Gulma Amaranthus gracilis pada Pertanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum).
Keterangan :
1. Terlihat Berdaun Sempit
2. Terlihat Batang Kecil
3. Terlihat Berakar Tunggang
Gambar 61. Morfologi Gulma Mimosa pudica pada Pertanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum).
Keterangan :
1. Terlihat Berdaun Lebar
2. Terlihat Batangnya Lunak
3. Terlihat Berakar Serabut
Gambar 62. Morfologi Gulma Elatine triandra pada Pertanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum).
4.2 Pembahasan
Pengamatan pertama yaitu mengamati morfologi tanaman gulma Cyperus pumilus pada pertanaman bawang merah (Allium ascolanicum), tampak terlihat daunnya kecil memanjang, ujung daun meruncing, tulang daun sejajar serta batang berbuku-buku dan memiliki akar serabut. Gulma Cyperus pumillus ini termasuk dalam golongan gulma teki-tekian.
Gulma ini memiliki daun berbentuk pita, bergaris, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai dan letaknya berjejal pada pangkal batang dengan pelepah daun tertutup tanah. Batangnya tumbuh tegak, berbentuk tumpul atau segitiga. Berakar serabut yang tumbuh menyamping dengan membentuk umbi yang banyak, tiap umbi mempunyai mata tunas, umbi tidak tahan kering selama 14 hari di bawah sinar matahari daya tumbuhnya akan hilang. Gulma Cyperus sp. termasuk dalam famili Cyperaceae (teki-tekian) (Prasetyo, 2009).
Gulma berdaun sempit yaitu apabila helaian daun atau laminanya berbentuk memanjang dan ukuran lebarnya helaian daun kecil atau sempit. Helaian daun dari golongan ini umumnya terdiri dari kelampok daun yang berbentuk pita, linearis, jarum dan yang berbentuk panjang-panjang. Pertulangan daun dari golongan ini umumnya berbentuk lurus-lurus atau linearis yang umumnya didominasi oleh kelompok tumbuhan dari klas Monocotyledoneae (Johny, 2006).
Pengamatan kedua yaitu mengamati Morfologi Gulma Amaranthus gracilis pada pertanaman bawang merah (Allium ascolanicum), terlihat daunnya berdaun lebar, bertulang daun sejajar, batangnya lunak serta memiliki akar tunggang. Gulma Amaranthus glacillis ini temasuk dalam golongan gulma berdaun lebar.
Gulma ini berbatang bulat, tegak, berwarna hijau sampai ungu dan termasuk berbatang basah. Daunnya berselang-seling, bulat/oval, menyempit ke bagian ujungnya, panjang tangkai daun 2-8 cm, berujung runcing, tulang daun menyirip, tepi daun rata. Akar berupa akar tunggang, tidak berkayu (herbaceous) dan berwarna putih kekuning-kuningan. Gulma jenis Amaranthus sp. merupakan golongan gulma berdaun lebar (Anonim, 2009).
Gulma berdaun lebar tumbuhan ini mempunyai bentuk daun yang lebar dan luas dan umumnya mempunyai lintasan C3, nervatio (pertulangan daun) menyirip, dari kelompok Dicotyledoneae bentuk helaian membulat, bulat, oval, lonjong, segitiga, bentuk ginjal (Johny, 2006).
Pengamatan berikut yaitu mengamati morfologi gulma Mimosa pudica yang menyerang pertanaman bawang merah (Allium ascolanicum) terlihat daun kecil yang dalam satu tangkai daun jumlahnya banyak, batang kecil, serta memilki sistem perakaran tunggang. Gulma Mimosa pudica ini termasuk dalam golongan gulma berdaun lebar.
Berbagai macam gulma dari anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta titik tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa pudica) (Anonim, 2009).
Daun berupa daun majemuk menyirip ganda dua yang sempurna. Jumlah anak daun setiap sirip 5-26 pasang. Helaian anak daun berbentuk memanjang sampai lanset, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, permukaan atas dan bawah licin, panjang 6-16 mm, lebar 1-3 mm, berwarna hijau, umumnya tepi daun berwarna ungu. Jika daun tersentuh akan melipatkan diri, menyirip rangkap. Sirip terkumpul rapat dengan panjang 4-5,5 cm. Batang bulat, berambut, dan berduri tempel. Batang dengan rambut sikat yang mengarah miring ke bawah. Akarnya berupa akar tunggang. Famili Mimosaceae termasuk dalam kelompok gulma berdaun lebar (Jayani, 2009).
Pengamatan terakhir yaitu mengamati morfologi gulma Elatine triandra yang menyerang pertanaman bawang merah (Allium ascolanicum). Terlihat bahwa daunnya tampak berdaun lebar, tulang daunnya menjari, batangnya lunak serta memiliki system perakaran serabut.
Gulma Elatine triandra merupakan rumput liar tahunan yang tumbuhnya merambat, umumnya bercabang banyak, bentuk tebal dengan panjang 1-15 cm, bunganya kecil berselang seling. Bunganya mempunyai daun yang biasanya berjumlah 2-3, yang berselaput seperti bujur telur dengan warna merah mudaatau putih dengan ukuran 1-125 nm, benang sari bunganya 2 dengan 3 kepala putik biasanya berbunga sepanjang tahun (Triharso, 2004).
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu cara preventif, mekanik, dan kultur teknik. Cara preventif dapat dilaksanakan melalui karantina tumbuhan atau penggunaan benih berlabel. Cara mekanik dapat dilakukan dengan cara penyiangan, pembabatan, pembakaran, pemakaian mulsa (penggunaan bahan organik atau sampah organik dan anorganik), dan pengolahan tanah. Sedang cara kultur teknik dapat dilakukan dengan memilih varietas unggul, penggunaan jarak tanam optimum, pemupukan optimal, pergiliran tanaman, tumpang sari, dan pohon pelindung (Triharso, 2004).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum tentang Pengenalan Gulma, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Jenis gulma yang paling dominan tumbuh pada areal pertanaman bawang merah (Allium ascalonicum) adalah Cyperus pumilus, Amaranthus gracilis, Mimosa pudica, Cyperus elatus L., dan Elatine triandra. Gulma Mimosa pudica memililiki populasi yang dominan.
2. Berdasarkan ciri morfologinya, tumbuhan gulma digolongkan ke dalam 3 kelompok, yaitu golongan teki-tekian (sedges), golongan rumput-rumputan (grasses), dan golongan gulma berdaun lebar (broadleaft weeds).
3. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara preventif dan kuratif. Secara kuratif dilakukan dengan cara mekanik, biologis dan kimia.
5.2 Saran
Saran saya sebagai praktikan dalam mengidentifiksai gulma sebaiknya gulma yang menjadi sampel diambil lebih banyak lagi agar dapat mengetahui jenis gulma lebih banyak.
DAFTAR PUSTAKA
Angga, 2009. Identifikasi Gulma. http://angga1503.wordpress.com/2009/01/02/identifikasi-gulma/. Diakses pada tanggal 4 Desember 2009.
_______, 2008. Pengendalian Gulma. http://www.ratoonjatim.co.cc/pengendalian_gulma/jenis_dan_sebaran_gulma_di_kebun.htm. Diakses pada tanggal 4 Desember 2009.
_______, 2008. Gulma. http://id.wikipedia.org/wiki/Gulma. Diakses pada tanggal 4 Desember 2009.
_______, 2009. Laporan Gulma. http://tustiana.blogspot.com/2009/02/laporan-gulma-rumput.html. Diakses pada tanggal 4 Desember 2009.
Jayani, 2009. Morfologi, Anatomi, dan Fisiologi Mimosa pudica. http://toiusd.multiply.com. Diakses pada tanggal 3 November 2009.
Johny, 2006. Dasar-Dasar Mata Kuliah. http://www.google.co.id. Diakses pada tanggal 4 Desember 2009.
Prasetyo, G., 2009. Cyperus. http://toiusd.multiply.com. Diakses pada tanggal 3 November 2009.
Triharso, 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
laporan Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman (Hama Gudang)
LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM
DASAR DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN SERANGGA HAMA
Hama Gudang
Oleh
MUHAMAD RIDWAN
E 281 08 034
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2009
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses penyimpanan merupakan tahap pasca panen yang penting. Pada tahap ini akan mengalami perubahan kualitas dan kuantitas yang dipengaruhi oleh fasilitas penyimpanan serta hama gudang. Hama adalah organisme yang berbentuk hewan yang mengganggu atau merusak tanaman, hewan atau benda yang kita miliki secara ekonomis salah satunya adalah hama gudang.
Hama gudang mempunyai sifat yang khusus yang berlainan dengan hama-hama yang menyerang dilapangan, hal ini sangat berkaitan dengan ruang lingkup hidupnya yang terbatas yang tentunya memberikan pengaruh faktor luar yang terbatas pula. Walaupun hama gudang (produk dalam simpanan) ini hidupnya dalam ruang lingkup yang terbatas, karena ternyata tidak sedikit pula Janis dan spesiesnya, yang masing-masing memiliki sifat sendiri, klasifikasi atau penggolongan hama yang menyerang produk dalam gudang untuk lebih mengenalnya dan lebih mudah mempelajarinya telah dilakukan oleh para ahli taxonomi.
Yang dimaksud dengan klasifikasi atau penggolongan ialah pengaturan individu dalam kelompok, penyusunan kelompok dalam suatu sistem, data individu dan kelompok menentukan hama itu dalam sistem tersebut. Letak hama hama dalam sistem sudah memperlihatkan sifatnya. Umumnya hama gudang yang sering dijumpai adalah dari golongan Coleoptera, misalnya Tribolium castaneum, Sitophilus oryzae, Callocobruchus sp. , dll.
Produk pasca penen merupakan bagian tanaman yang dipanen dengan berbagai tujuan terutama untuk memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi petani maupun konsumen. Produk dalam simpanan ini tidak terlepas dari masalah organisme pengganggu tumbuhan terutama dari golongan serangga hama. Hama yang menyerang komoditas simpanan (hama gudang) mempunyai sifat khusus yang berlainan dengan hama yang menyerang tanaman ketika di lapang. Menyerang produk yang baru saja dipanen melainkan juga produk industri hasil pertanian. Produk tanaman yangdisimpan dalam gudang yang sering terserang hama tidak hanya terbatas Hama yang terdapat dalam gudang tidak hanya pada produk bebijian saja melainkan produk yang berupa dedaunan (teh, kumis kucing, dan lain sebagainya) dan kekayuan atau kulit kayu misalnya kayumanis, kulit kina, dan lainnya (Wagianto, 2008).
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul III tentang Pengenalan Hama Gudang yaitu untuk mengetahui jenis-jenis hama yang menyerang tempat-tempat penyimpanan hasil-hasil pertanian serta cara pengendaliannya dan gejala serangannya.
Kegunaan Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul III tentang Pengenalan Hama Gudang untuk membedakan ciri morfologi dan kehilangan berat serta mengetahui cara pengendalian Hama Gudang.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis)
2.1.1 Ciri morfologi
Ukuran tubuh Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis) memiliki ukuran tubuh yang relative kecil dibandingkan dengan hama gudang lainnya. Warna tubuh Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis) berwarna coklat kehitam-hitaman, sayapnya berwarna kekuning-kuningan. Imago dari hama ini berbentuk bulat telur. Bagian kepala (Caput) agak meruncing, pada elytra terdapat gambaran agak gelap. Pronotum halus, elytra berwarna cokelat agak kekuningan. Ukuran tubuh sekitar 5-6 mm. Imago betina dapat bertelur hingga 150 butir, telur diletakkan pada permukaan produk kekacangan dalam simpanan dan akan menetas setelah 3-5 hari. Larva biasanya tidak keluar dari telur, tetapi hanya merobek bagian kulit telur yang melekat pada material. Larva akan menggerek di sekitar tempat telur diletakkan. Lama stadia larva adalah 4-6 hari. Produk yang diserang akan tampak berlubang (Borror, 2009).
2.1.2 Sistematika
Klasifikasi Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis) yaitu Kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Coleoptera, Famili Bruchidae, Genus Callosobruchus, Spesies (Callosobruchus chinensis) (Pustekom, 2005).
2.1.3 Gejala serangan
Gejala serangan Kumbang kacang hijau (Callosobruchus chinensis) tampak lubang pada biji-biji kacang hijau yang mengakibatkan lama-kelaman biji tersebut menjadi retak. Intensitas serangan akibat hama dalam produk simpanan termasuk dalam kategori sedang, walaupun beberapa hama dapat menyebabkan kerugian yang nyata secara ekonomi. Intensitas serangan pada komoditas kopi, kacang hijau, kacang tanah, kacang tolo, dan beras adalah 0,3 %, 0,13 %, 0,19 %, 0,29 %, dan 0,34 %. Intensitas serangan paling kecil terdapat pada komoditas kacang hijau dan intensitas tertinggi ada pada komoditas beras (Indonesia, 2001).
2.1.4 Pengendalian
Pengendalian dapat dilakukan dengan melakukan fumigasi dan menggunakan musuh alami hama ini (Anisopteromalus calandrae dan semut hitam) (Nayneienay, 2008).
2.2 Kumbang Kopra (Necrobia rufipes)
2.2.1 Ciri morfologi
Kumbang kopra (Necrobia rufipes) memilki ciri morfologi terdiri dari antena, caput, mata majemuk, abdomen, thoraks, tungkai depan, tungkai belakang dan sepasang sayap. Ukuran tubuh dewasa yaitu sekitar 4-5 mm. Permukaan atas tubuh berwarna hijau kebiru-biruan metalik dan mengkilap. Bagian permukaan bawah perut berwarna biru gelap. Kaki mereka coklat kemerah-merahan terang atau oranye. Antena berwarna coklat kemerah-merahan dengan ujung berwarna coklat tua atau hitam ( Rentikol, 2007).
2.2.2 Sistematika
Klasifikasi Kumbang Kopra (Necrobia rufipes) yaitu Kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Coleoptera, Famili Claridae, Genus Necrobia, Spesies (Necrobia rufipes) ( Wagianto, 2008).
2.2.3 Gejala serangan
Gejala serangan Kumbang Kopra (Necrobia rufipes) yaitu melubangi biji-biji kopra dan membuat kopra menjadi busuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap (Darmadi, 2008).
2.2.4 Pengendalian
Pengendalian Kumbang Kopra (Necrobia rufipes) untuk penyimpanan dapat dilakukan dengan pengasapan (fumigasi), atau dengan membersihkan (sanitasi) pada gudang tempat penyimpanan, sedangkan cara pengendalian untuk tanaman yang sedang dalam proses pertumbuhan biasanya dilakukan dengan menggunakan predator, prasit, pathogen sebagai musuh alami. Ada pula yang menggunakan cara mekanis dengan mematikan menggunakan tangan atau alat, menghalau dengan tirai (menggunakan tanaman sebagai tirai atau menggunakan plastik) (Naynienay, 2008).
2.3 Kumbang Beras (Sitophilus oryzae)
2.3.1 Ciri morfologi
Kumbang muda dan dewasa berwarna cokelat agak kemerahan, setelah tua warnanya berubah menjadi hitam. Terdapat 4 bercak berwarna kuningagak kemerahan pada sayap bagian depan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan. Panjang tubuh kumbang dewasa ± 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya. Apabila kumbang hidup pada jagung, ukuran rata-rata ± 4,5 mm, sedang pada beras hanya ± 3,5 mm. larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan ketika bergerak akan membentuk dirinya dalam keadaan agak membulat. Pupa kumbang ini tampak seperti kumbang dewasa (Naynienay, 2008).
Kumbang betina dapat mencapai umur 3-5 bulan dan dapat menghasilkan telur sampai 300-400 butir. Telur diletakkan pada tiap butir beras yang telah dilubangi terlebih dahulu. Lubang gerekan biasanya dibut sedalam 1 mm dan telur yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan bantuan moncongnya adalah telur yang berbentuk lonjong. Stadia telur berlangsung selama ± 7 hari. Larva yng telah menetas akan langsung menggerek butiran beras yang menjadi tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva akan tetap berada di lubang gerekan, demikian pula imagonya juga akan berada di dalam lubang selama ± 5 hari. Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama ± 31 hari. Panjang pendeknya siklus hidup ham ini tergantung pada temperatur ruang simpan, kelembapan di ruang simpan, dan jenis produk yang diserang (Naynienay, 2008).
2.3.2 Sistematika
Klasifikasi Kumbang Beras (Sitophilus oryzae) yaitu Kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Coleoptera, Famili Curculionidae, Genus Sitophilus, Spesies (Sitophilus oryzae) (Anonim, 2008 ).
2.3.3 Gejala serangan
Sitophilus oryzae dikenal sebagai bubuk beras (rice weevil). Hama ini bersifat kosmopolit atau tersebar luas di berbagai tempat di dunia. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini termasuk berat, bahkan sering dianggap sebagai hama paling merugikan produk pepadian. Hama (Sitophilus oryzae) bersifat polifag, selain merusak butiranberas, juga merusak simpanan jagung, padi, kacang tanah, gaplek, kopra, dan butiran lainnya. Akibat dari serangan hama ini, butir beras menjadi berlubang kecil-kecil, tetapi karena ada beberapa lubang pada satu butir, akan menjadikan butiran beras yang terserang menjadi mudah pecah dan remuk seperti tepung. Kualitas beras akan rusak sama sekali akibat serangan hama ini yang bercampur dengan air liur hama (Naynienay, 2008).
2.3.4 Pengendalian
Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus calandrae (parasit larva), semut merah dan semut hitam yang berperan sebagai predator dari larva dan telur hama. Penagendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara melakukan penjemuran produk simpanan pada terik matahari, diharapkan dengan adanya penjemuran ini hama Sitophilus oryzae dapat terbunuh, dengan pengaturan tempat penyimpanan, dan dengan melakukan fumigasi terhadap produk yang disimpan (Naynienay, 2008).
2.4 Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays)
2.4.1 Ciri morfologi
Morfologi Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) memiliki panjang 2,5-4,5 mm, berwarna coklat, moncong sempit dan panjang, mempunyai antena, larvanya putih dan gemuk dan tidak berkaki. Kadang larvanya berkembang dalam satu butir jagung. Kumbang muda berwarna coklat agak kemerahan, yang tua berwarna hitam. Terdapat bercak kuning agak kemerah-merahan pada sayap bagian depan. Pada sayap kiri dan kanan terdapat dua bercak. Panjang tubuh kumbang dewasa sekitar 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya (Naynienay, 2008).
2.4.2 Sistematika
Klasifikasi Kumbang Jagung (Sitophilus oryzae) yaitu Kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Coleoptera, Famili Curculionidae, Genus Sitophilus, Spesies (Sitophilus zeamays) (Udha, 2008).
2.4.3 Gejala serangan
Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) menyerang pada tanaman jagung yang mengakibatkan butir-butir jagung menjadi lubang. Ukuran lubang yang diakibatkan lebih besar dari pada gejala serangan pada beras, jagung yang terserang menjadi mudah pecah dan remuk, sehingga kualitas jagung menurun karena bercampur dengan air liur hama (Anonim, 2008).
2.4.4 Pengendalian
Cara pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara pengeringan bahan yang sempurnah, melakukan pengamasan yang baik, pemberian tablet khusus misalnya phastoksin. Kemudian melakukan fumigasi yang tentunya akan menimbulkan resiko yang sangat besar (Anonim, 2005).
2.5 Kumbang Tepung (Tribolium sp)
2.5.1 Ciri morfologi
Kumbang dewasa berbentuk pipih, berwarna cokelat kemerahan, panjang tubuhnya ± 4 mm. Telur berwarna putih agak merah dengan panjang ± 1,5 mm. larva berwarna cokelat muda dengan panjang ± 5-6 mm. Pupa berwarna putih kekuningan dengan panjang ± 3,5 mm. Kumbang betina mampu bertelur hingga 450 butir sepanjang siklus hidupnya. Telur diletakkan dalam tepung atau pada bahan lain yang sejenis yang merupakan pecahan kecil (remah). Larva bergerak aktif karena memiliki 3 pasang kaki thorixal. Larva akan mengalami pergantian kulit sebanyak 6-11 kali, tidak jarang pula pergantian kulit ini hanya terjadi sebanyak 6-7 kali, ukuran larva dewasa dapat mencapai 8-11 mm.
Menjelang terbentuknya pupa, larva kumbang akan muncul di permukaan material, tetapi setelah menjadi imago akan kembali masuk ke dalam material. Seklus hidup dari kumbang ± 35-42 hari (Wagianto, 2008).
2.5.2 Sistematika
Klasifikasi Kumbang Tepung (Tribolium sp) yaitu Kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Coleoptera, Famili Tenebrionidae, Genus Tribolium, Spesies (Tribolium sp.) (Rioardi, 2009).
2.5.3 Gejala serangan
Hama ini juga disebut hama bubuk beras, bubuk Tribolium bukan hama yang khusus menyerang beras atau tepungnya. Pada kenyataannya, dimana pada komoditas beras ditemukan hama (Sitophilus oryzae), pasti akan ditemukan juga hama bubuk ini. Hama (Tribolium) hanya memakan sisa komoditas yang telah terserang hama (Sitophilus oryzae) sebelumnya yang berbentuk tepung (hama sekunder). Hama ini tidak hanya ditemukan dalam komoditas beras, tetapi juga terdapat pada gaplek, dedak, beaktul yang ada di toko maupun di rumah (Anonim, 2008).
2.5.4 Pengendalian
Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan oleh hama ini dapat dilakukan dengan melakukan penjemuran terhadap komoditas simpanan pada waktu tertentu dengan pengeringan yang sempurna. Selain itu juga dapat dilakukan fumigasi terhadap produk pasca penen dengan menggunakan fumigan yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia ( Wagianto, 2008).
III. METODE PRAKTEK
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul III tentang Pengenalan Hama Gudang dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu dan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 28 Oktober 2009 pukul 14.00 WITA sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul III tentang Pengenalan Hama Gudang yaitu stoples yang dicet hitam, kain kasa hitam, karet gelang, cawan petri, lup, pinset dan alat tulis menulis serta buku gambar.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 10 ekor Kumbang Beras (Sitophilus oryzae), 10 ekor Kumbang Tepung (Tribolium sp.), 10 ekor Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays), 10 ekor Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis L.), 10 ekor Kumbang Kopra (Necrobia rufipes), 100gr beras (Oryza sativa), 100gr jagung (Zea mays), 100gr tepung, 100gr kopra, 100gr kacang hijau (Vigna angularis) dan alkohol 70%.
3.3 Cara Kerja
Tiga hari sebelum melakukan pengamatan, pertama yang dilakukan adalah menimbang bahan-bahan yang dibawah, setiap bahan ditimbang seberat 100gr. Setelah melakukan penimbangan kemudian masukan bahan dan 10 ekor serangga hama gudang ke dalam stoples yang sudah dicat hitam. Setelah itu ditutup dengan kain kasa berwarnah hitam, agar tidak lepas kainya diikat dengan karet gelang. Tiga hari kemudian semua bahan yang dimasukan kedalam toples menimbang kembali untuk mengetahui penyusutan bahan dan dilakukan penimbangan sebanyak empat kali pengamatan. Saat praktikum bahan hama gudang yang dibawah keluarkan dari stoples kemudian mengamati struktur morfologinya serta menggambarnya di buku gambar.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dalam Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Modul III tentang Pengenalan Hama Gudang didapatkan hasil sebagai berikut :
4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Kehilangan Berat Bahan Simpanan
Tabel 1. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Kacang Hijau (Vigna angularis)
| No | Hari/Tanggal | Berat Awal | Berat Akhir | Susut |
| 1. | Senin, 19 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 2. | Kamis, 22 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 3. | Senin, 26 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 4. | Rabu, 28 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
Grafik 1. Kehilangan Berat Bahan Simpanan pada Kacang Hijau (Vigna angularis).
Table 2. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Kopra (Cocos nucifera)
Grafik 2. Kehilangan Berat Bahan Simpanan pada pada Kopra (Cocos nucifera)
Tabel 3. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Beras (Oryza sativa)
Grafik 3. Kehilangan Berat Bahan Simpanan pada pada Beras (Oryza sativa).
Tabel 4. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Jagung (Zea mays)
Tabel 5. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Tepung
| No | Hari/Tanggal | Berat Awal | Berat Akhir | Susut |
| 1. | Senin, 19 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 2. | Kamis, 22 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 3. | Senin, 26 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 4. | Rabu, 28 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
Grafik 5. Kehilangan Berat Bahan Simpanan pada Tepung.
4.1.2 Morfologi Hama Gudang
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, maka dapat diketahui morfologi sebagai berikut :
| Keterangan : 1. Caput 2. Antena 3. Alat Mulut 4. Mata Majemuk 5. Toraks 6. Tungkai Depan 7. Tungkai Tengah 8. Tungkai Belakang 9. Abdomen 10. Sayap |
Gambar 35. Morfologi Kumbang Kacang Hijau (Callocobruchus chinensis).
| Keterangan : Lubang Pada Kacang Hijau (Vigna angularis) |
Gambar 36. Gejala Serangan Kumbang Kacang Hijau (Callocobruchus chinensis).
| Keterangan : 1. Caput 2. Antena 3. Alat Mulut 4. Mata Majemuk 5. Toraks 6. Tungkai Depan 7. Tungkai Tengah 8. Tungkai Belakang 9. Abdomen 10. Sayap |
Gambar 37. Morfologi Kumbang Kopra (Necrobia rufipes).
| Keterangan : Lubang Pada Kopra (Cocos nucifera) akibat serangan Kumbang Kopra (Necrobia rufipes) |
Gambar 38. Gejala Serangan Kumbang Kopra (Necrobia rufipes).
| Keterangan : 1. Caput 2. Antena 3. Alat Mulut 4. Mata Majemuk 5. Toraks 6. Tungkai Depan 7. Tungkai Tengah 8. Tungkai Belakang 9. Abdomen 10. Sayap |
Gambar 39. Morfologi Kumbang Beras (Sitophilus oryzae).
| Keterangan : Lubang Pada beras akibat serangan Kumbang Beras (Sitophilus oryzae) |
Gambar 40. Gejala Serangan Kumbang Beras (Sitophilus oryzae).
| Keterangan : 1. Caput 2. Antena 3. Alat Mulut 4. Mata Majemuk 5. Toraks 6. Tungkai Depan 7. Tungkai Tengah 8. Tungkai Belakang 9. Abdomen 10. Sayap |
Gambar 41. Morfologi Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays).
|
Keterangan : Lubang Pada butir jagung (Zea mays) |
Gambar 42. Gejala Serangan Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays).
| Keterangan : 1. Caput 2. Antena 3. Alat Mulut 4. Mata Majemuk 5. Toraks 6. Tungkai Depan 7. Tungkai Tengah 8. Tungkai Belakang 9. Abdomen 10. Sayap |
Gambar 43. Morfologi Kumbang Tepung (Tribolium sp.).
4.2 Pembahasan
Pengamatan pertama yaitu pengukuran kehilangan berat bahan simpanan pada biji kacang hijau (Vigna angularis), tiga hari sebelum pengamatan kehilangan berat bahan simpanan pada biji kacang hijau (Vigna angularis), dilakukan penimbangan awal pada bahan simpanan biji kacang hijau (Vigna angularis), yang mana berat awal semua bahan simpanan adalah sebanyak 100gr. Pada penimbangan pertama yang dilakukan pada hari Senin, 19 Oktober 2009, berat pada biji kacang hijau (Vigna angularis) yaitu seberat 100gr. Belum menunjukan adanya penurunan berat yang berarti persentase penyusutan bahan adalah 0%. Pada penimbangan berat bahan simpanan yang kedua yang dilakukan pada hari Kamis, 22 Oktober 2009, diperoleh hasil bahwa tidak terjadi penyusutan berat bahan yaitu berat bahan masih sama dengan berat bahan awal. Pada pengamatan ketiga yang dilakukan empat hari setelah pengamatan kedua yaitu pada hari Senin, 26 Oktober 2009, dari hasil penimbangan tidak terjadi penyusutun berat bahan simpanan pada biji kacang hijau (Vigna angularis) yaitu beratnya masih sama dengan berat awal seberat 100gr. Pada penimbangan terakhir yang dilakukan sebelum praktikum berikutnya yaitu pada hari Rabu, 28 Oktober 2009 juga diperoleh hasil yang sama yaitu berat bahan simpanan pada biji kacang hijau (Vigna angularis) yaitu seberat 100gr dan persentase penyusutannya adalah 0%.
Hama Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis) akan merusak biji yang telah disimpan di dalam gudang penyimpanan. Intensitas serangan akibat hama dalam produk simpanan termasuk dalam kategori sedang, walaupun beberapa hama dapat menyebabkan kerugian yang nyata secara ekonomis (Wordpress, 2008).
Pengamatan kehilangan berat bahan simpanan pada Kopra, dimana pada pengamatan pertama yang dilakukan pada hari Senin, 19 Oktober 2009 tidak mengalami penyusutan, berat bahan simpanan masih sama dengan berat awal yaitu seberat 100gr. Berat bahan simpanan Kopra pada pengamatan kedua tidak mengalami perubahan. Pengamatan tiga dan empat juga tidak mengalami penyusutan berat yaitu persentase penyusutanya 0 %.
Hasil pengamatan kehilangan berat bahan simpanan pada beras (Oriza sativa), pada penimbangan pertama pada hari Senin, 19 Oktober 2009 tidak mengalami penyusutan dan penurunan berat. Panimbangan kedua dilakukan dan di peroleh hasil bahwa berat bahan simpanan dan persentase penyusutan tidak mengalami perubahan, juga pada pengamatan ketiga dan keempat.
Hasil pengamatan kehilangan berat bahan simpanan pada jagung (Zea mays) tidak mengalami penurunan berat pada pengamatan pertama. Pada penimbangan kedua berat bahan simpanan pada jagung (Zea mays) belum juga mengalami penyusutan, begitupun pada penimbangan ketiga dan keempat.
Senin, 19 Oktober 2009 dilakukan penimbangan berat bahan simpanan pada tepung dan diperoleh hasil yang sama dengan berat bahan simpanan yang terjadi pada bahan simpanan lainnya. Pada tanggal 22 Oktober dilakukan lagi penimbangan dan hasilnya pun tidak mengalami penyusutan, begitupun pada penimbangan ketiga dan keempat.
Pengamatan kehilangan berat bahan simpanan dari awal pengamatan sampai akhir pengamatan tidak mengalami penyusutan, hal ini diakibatkan beberapa hal antara lain hama gudang yang di simpan dalam stoples kemungkinan seluruhnya hama betina atau sebaliknya. Dapat juga terjadi diakibatkan saat penimbangan semua hama gudang yang berada dalam stoples terbang dan tidak ada yang tersisa. Dan tempat penyimpanan hama gudang ruangannya steril sehingga menekan perkembang biakan hama gudang yang mengakibatkan hama gudang tersebut mati.
Pengamatan morfologi kumbang kacang hijau (Callosobruchus chinensis), tampak terlihat caput, antenna, toraks, tungkai depan, tungkai tengah dantungkai tungkai belakang. Caput kumbang kacang hijau (Callosobruchus chinensis) tampak bulat seperti caput semut hitam. Ukuran tubuh kumbang kacang hijau sangat kecil, berbeda dengan ukuran tubuh hama gudang lainnya.
Ukuran tubuh Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis) memiliki ukuran tubuh yang relative kecil dibandingkan dengan hama gudang lainnya. Warna tubuh Kumbang Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis) berwarna coklat kehitam-hitaman, sayapnya berwarna kekuning-kuningan. Imago dari hama ini berbentuk bulat telur. Bagian kepala agak meruncing, pada elytra terdapat gambaran agak gelap. Pronotum halus, elytra berwarna cokelat agak kekuningan. Ukuran tubuh sekitar 5-6 mm. Imago betina dapat bertelur hingga 150 butir, telur diletakkan pada permukaan produk kekacangan dalam simpanan dan akan menetas setelah 3-5 hari (Hartati, 2009).
Kumbang Kacang hijau (Callosobruchus chinensis) menyerang pada butir-butir kacang hijau yang gejala serangannya tampak terlihat bekas-bekas lubang. Lubang uang ditimbulkan dalam satu butir biasanya lebih dari satu lubang. Buti-butir yang terserang biasanya jika tersimpan lama maka akan retak.
Gejala serangan Kumbang kacang hijau (Callosobruchus chinensis) tampak lubang pada biji-biji kacang hijau yang mengakibatkan lama-kelaman biji tersebut menjadi retak. Intensitas serangan akibat hama dalam produk simpanan termasuk dalam kategori sedang, walaupun beberapa hama dapat menyebabkan kerugian yang nyata secara ekonomi. Intensitas serangan pada komoditas kopi, kacang hijau, kacang tanah, kacang tolo, dan beras adalah 0,3 %, 0,13 %, 0,19 %, 0,29 %, dan 0,34 %. Intensitas serangan paling kecil terdapat pada komoditas kacang hijau dan intensitas tertinggi ada pada komoditas beras ( Wagianto, 2008).
Pengamatan morfologi kumbang kopra (Necrobia rufipes) terlihat bahwa kumbang kopra (Necrobia rufipes) terdiri atas caput, antena, alat mulut, toraks dan abdomen. Pada torak terdapat tiga pasang tungkai, yaitu tungkai depan, tungkai tengah dan tungkai belakang. Ukuran tubuh kumbang kopra (Necrobia rufipes) lebih besar dari ukuran tubuh hama gudang lainnya.
Kumbang kopra (Necrobia rufipes) memilki cirri morfologi terdiri dari antena, caput, mata majemuk, abdomen, thoraks, tungkai depan, tungkai belakang dan sepasang sayap. Ukuran tubuh dewasa yaitu sekitar 4-5 mm. Permukaan atas tubuh berwarna hijau kebiru-biruan metalik dan mengkilap. Bagian permukaan bawah perut berwarna biru gelap. Kaki mereka coklat kemerah-merahan terang atau oranye. Antena berwarna coklat kemerah-merahan dengan ujung berwarna coklat tua atau hitam ( Wagianto, 2008).
Gejala serangan kumbang kopra (Necrobia rufipes) tampak terlihat lubang-lubang pada kopra. Lubang yang ditimbulkan biasanya lebih dari satu dan kopra yang diserang baunya jadi busuk.
Gejala serangan Kumbang Kopra (Necrobia rufipes) yaitu melubangi biji-biji kopra dan membuat kopra menjadi busuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap (Hama sains, 2008).
Pengamatan morfologi Kumbang Beras (Sitophilus oryzae), struktur morfologinya terdiri atas caput, toraks, dan abdomen. Pada caput terdapat sepasang antena, alat mulut dan juga terdapat mata mejemuk. Bagian toraks terlihat tiga pasang tungkai yaitu tungkai belakang, tangah dan tungkai depan. Warna tubuh Kumbang Beras (Sitophilus oryzae) berwarnah merah agak kecoklatan. Pada bagian sayap terdapat empat bercak-bercak berwarna kuning agak kemerahan yang mana dua bercak pada sayap kiri dan dua bercak pada sayap kanan.
Kumbang muda dan dewasa berwarna cokelat agak kemerahan, setelah tua warnanya berubah menjadi hitam. Terdapat 4 bercak berwarna kuningagak kemerahan pada sayap bagian depan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan. Panjang tubuh kumbang dewasa ± 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya. Apabila kumbang hidup pada jagung, ukuran rata-rata ± 4,5 mm, sedang pada beras hanya ± 3,5 mm. Larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan ketika bergerak akan membentuk dirinya dalam keadaan agak membulat. Pupa kumbang ini tampak seperti kumbang dewasa (Naynienay, 2008).
Kumbang betina dapat mencapai umur 3-5 bulan dan dapat menghasilkan telur sampai 300-400 butir. Telur diletakkan pada tiap butir beras yang telah dilubangi terlebih dahulu. Lubang gerekan biasanya dibut sedalam 1 mm dan telur yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan bantuan moncongnya adalah telur yang berbentuk lonjong. Stadia telur berlangsung selama ± 7 hari. Larva yng telah menetas akan langsung menggerek butiran beras yang menjadi tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva akan tetap berada di lubang gerekan, demikian pula imagonya juga akan berada di dalam lubang selama ± 5 hari. Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama ± 31 hari. Panjang pendeknya siklus hidup hama ini tergantung pada temperatur ruang simpan, kelembapan di ruang simpan, dan jenis produk yang diserang (Naynienay, 2008).
Gejala serangan Kumbang Beras (Sitophilus oryzae) terlihat bahwa butir-butir beras yang diserang terdapat lubang lubang-lubang kecil. Beras yang terserang mudah hancur, yang mengakibatkan kualitas beras menjadi buruk.
(Sitophilus oryzae) dikenal sebagai bubuk beras (rice weevil). Hama ini bersifat kosmopolit atau tersebar luas di berbagai tempat di dunia. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini termasuk berat, bahkan sering dianggap sebagai hama paling merugikan produk pepadian. Hama (Sitophilus oryzae) bersifat polifag, selain merusak butiranberas, juga merusak simpanan jagung, padi, kacang tanah, gaplek, kopra, dan butiran lainnya. Akibat dari serangan hama ini, butir beras menjadi berlubang kecil-kecil, tetapi karena ada beberapa lubang pada satu butir, akan menjadikan butiran beras yang terserang menjadi mudah pecah dan remuk seperti tepung. Kualitas beras akan rusak sama sekali akibat serangan hama ini yang bercampur dengan air liur hama (Anonim, 2009).
Morfologi Kumbang Jagung (Sitophilus zeamayz) hampir sama dengan morfologi hama gudang lainnya. Alat mulut Kumbang Jagung (Sitophilus zeamayz) lebih panjang dari alat mulut hama gudang lainnya. Bagian morfologi yang tampak secara umum adalah caput, toraks, dan abdomen. Kumbang Jagung (Sitophilus zeamayz) berwarna coklat kehitam-hitaman.
Morfologi Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) memiliki panjang 2,5-4,5 mm, berwarna coklat, moncong sempit dan panjang, mempunyai antena, larvanya putih dan gemuk dan tidak berkaki. Kadang larvanya berkembang dalam satu butir jagung. Kumbang muda berwarna coklat agak kemerahan, yang tua berwarna hitam. Terdapat bercak kuning agak kemerah-merahan pada sayap bagian depan. Pada sayap kiri dan kanan terdapat dua bercak. Panjang tubuh kumbang dewasa sekitar 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya (Naynienay, 2008).
Gejala serangan yang timbulkan yaitu butir-butir jagung terdapat lubang, sama gejala serangan hama gudang lainnya, lubang yang ditimbulkan akibat gejala serangan lebih dari satu lubang dan ukuran lubangnya lebih besar.
Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) menyerang pada tanaman jagung yang mengakibatkan butir-butir jagung menjadi lubang. Ukuran lubang yang diakibatkan lebih besar dari pada gejala serangan pada beras, jagung yang terserang menjadi mudah pecah dan remuk, sehingga kualitas jagung menurun karena bercampur dengan air liur hama (Yudhi, 2008).
Pengamatan morfologi Kumbang Tepung (Tribolium sp) terlihat bahwa Kumbang Tepung (Tribolium sp) mempunyai caput, toraks, dan juga abdomen. Pada caput terdapat sepasang antena, mata majemuk dan juga alat mulut. Pada bagian toraks terdapat tiga pasang tungkai, dan pada bagian abdomen terdapat sepasang sayap. Warna tubuh Kumbang Tepung (Tribolium sp) berwarna coklat kemerahan.
Kumbang dewasa berbentuk pipih, berwarna cokelat kemerahan, panjang tubuhnya ± 4 mm. Telur berwarna putih agak merah dengan panjang ± 1,5 mm. larva berwarna cokelat muda dengan panjang ± 5-6 mm. Pupa berwarna putih kekuningan dengan panjang ± 3,5 mm. Kumbang betina mampu bertelur hingga 450 butir sepanjang siklus hidupnya. Telur diletakkan dalam tepung atau pada bahan lain yang sejenis yang merupakan pecahan kecil (remah). Larva bergerak aktif karena memiliki 3 pasang kaki thorakal. Larva akan mengalami pergantian kulit sebanyak 6-11 kali, tidak jarang pula pergantian kulit ini hanya terjadi sebanyak 6-7 kali, ukuran larva dewasa dapat mencapai 8-11 mm. Menjelang terbentuknya pupa, larva kumbang akan muncul di permukaan material, tetapi setelah menjadi imago akan kembali masuk ke dalam material. Seklus hidup dari kumbang ± 35-42 hari ( Wagianto, 2008).
Gejala serangan Kumbang Tepung (Tribolium sp) mengakibatkan bahan penyimpanan tepung menjadi kotor.
Gejala serangan yang ditimbulkan oleh kumbang ini yaitu bahan yang telah diserang warnanya menjadi kotor, banyak kumbang yang merayap dipermukaan tempat penyimpanan, dan terdapat kotoran serangga (Anonim, 2008).
Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara melakukan penjemuran produk simpanan pada terik matahari, diharapkan dengan adanya penjemuran ini hama Sitophilus oryzae dapat terbunuh, dengan pengaturan tempat penyimpanan, dan dengan melakukan fumigasi terhadap produk yang disimpan (Naynienay, 2008).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Hama gudang adalah organisme yang mengganggu atau merusak bahan simpanan pertanian pasca panen.
2. Morfologi hama gudang terdiri dari Caput, Antena, Alat Mulut, Mata Majemuk, Toraks, Tungkai Depan, Tungkai Tengah, Tungkai Belakang, Abdomen dan Sayap.
3. Pengendalian hama gudang untuk penyimpanan dapat dilakukan dengan pengasapan (fumigasi), atau dengan membersihkan (sanitasi) pada gudang tempat penyimpanan.
5.2 Saran
Saran saya sebagai praktikan agar praktikum berikutnya praktikan bisa lebih tenang dalam mengikuti praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Agriculture, 2005. Biologi Insecta (http : www.wikipedia. co. id/). Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009.
Anonim, 2007. Hama Pada Tanaman Pangan. http://www.Edukasi.net/mol/mo_full.php?Moid=78&Fname=Bio111_19.Htm. Diakses pada tanggal 30 oktober 2009.
Borror, D.J., C.A, 2009. http://fp.uns.ac.id?~hamasains/dasarperlintan-2.htm0.Diakses pada tanggal 20 Oktober 2009.
Didi Darmadi, 2008. fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-2.htm. diakses pada
tanggal16 oktober 2009
Dikmenum, 2008. INVERTEBRATA http:// www. Dikmenum. Go.id /images. diakses pada tanggal 16 Oktober 2009.
Deptan, 2008. http://ntb.litbang.deptan.go.id/liptan/hc.pdf. Diakses pada tanggal 30, Oktober 2009.
Hama sains, 2008. http://fp.uns.ac.id?~hamasains/dasarperlintan-2.htm0.Diakses pada tanggal 20 Oktober 2009.
Hartati, 2009. Laporan Praktikum Zoologi Arachnida dan Myriapoda. http:// biologi-staincrb.web.id. Di akses pada tanggal 16 Oktober 2009.
Indonesia, 2001. info@gizi.net. Serangga Hama Gudang. Diakses pada tanggal 30, Oktober 2009.
Naynienay, 2008. http://naynienay.wordpress.com/2008/01/28/tentang-hama- tumbuhan/. Di akses pada tanggal 30 Oktober 2009.
Pustekom, 2005. http:// 209.85.175.104/ search?q cache : INeAFuGoOvsJ :fp.uns.ac.
id/-hamasains/id/ hamasains/dasar perlintan diakses pada 16 okt 2009.
Rentikol, 2007. Hama Gudang. Rentikol Initial. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009.
Rioardi, 2009. Ordo-Ordo Serangga. http://rioardi.wordpress.com. Di akses pada tanggal 16 Oktober 2009.
Udha, 2008. Hama Pasca Panen http://abank- udha123.tripod.com/ekologi_hama_pascapanen.htm. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009.
Wagianto, 2008. http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=508. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009.
Yudhi, 2008. Hama Pasca Panen http : wordpress.com. Diakses pada tanggal 30 November 2009.
LAMPIRAN
1. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat Simpanan Bahan Kacang Hijau (Vigna angularis).
a. Penyusutan
Susut = Berat Awal - Berat Akhir x 100 %
Berat Awal
= 100gr – 100gr x 100%
100gr
= 0 %
b. Tabel Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Kacang Hijau (Vigna angularis)
| No | Hari/Tanggal | Berat Awal | Berat Akhir | Susut |
| 1. | Senin, 19 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 2. | Kamis, 22 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 3. | Senin, 26 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 4. | Rabu, 28 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
2. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat Bahan Simpanan pada Kopra (Cocos nucifera)
a. Penyusutan
Susut = Berat Awal - Berat Akhir x 100 %
Berat Awal
= 100gr – 100gr x 100%
100gr
= 0 %
b. Table. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Kopra (Cocos nucifera)
| No | Hari/Tanggal | Berat Awal | Berat Akhir | Susut |
| 1 | Senin, 19 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 2. | Kamis, 22 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 3 | Senin, 26 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 4 | Rabu, 28 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
3. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat Bahan Simpanan pada Beras (Oryza sativa)
a. Penyusutan
Susut = Berat Awal - Berat Akhir x 100 %
Berat Awal
= 100gr – 100gr x 100%
100gr
= 0 %
b. Table. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Beras (Oryza sativa)
| No | Hari/Tanggal | Berat Awal | Berat Akhir | Susut |
| 1 | Senin, 19 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 2. | Kamis, 22 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 3 | Senin, 26 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 4 | Rabu, 28 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
4. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat Bahan Simpanan pada Jagung (Zea mays)
a. Penyusutan
Susut = Berat Awal - Berat Akhir x 100 %
Berat Awal
= 100gr – 100gr x 100%
100gr
= 0 %
b. Tabel Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Jagung (Zea mays)
| No | Hari/Tanggal | Berat Awal | Berat Akhir | Susut |
| 1. | Senin, 19 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 2. | Kamis, 22 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 3. | Senin, 26 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 4. | Rabu, 28 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
5. Hasil Pengamatan Kehilangan Berat Bahan Simpanan pada Tepung
a. Penyusutan
Susut = Berat Awal - Berat Akhir x 100 %
Berat Awal
= 100gr – 100gr x 100%
100gr
= 0 %
b. Tabel Hasil Pengamatan Kehilangan Berat pada Tepung
| No | Hari/Tanggal | Berat Awal | Berat Akhir | Susut |
| 1. | Senin, 19 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 2. | Kamis, 22 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 3. | Senin, 26 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |
| 4. | Rabu, 28 Oktober 2009 | 100gr | 100gr | 0% |